Hai kawan..kali ini aku akan membahas tentang penyebaran informasi melalui media sosial yang menurutku paling efektif alias jitu. Siapa sih yang tidak kenal medsos? Anak-anak kecil zaman sekarang, anak-anak SD, SMP, SMA, perguruan tinggi, pengusaha, karyawan, ibu rumah tangga, dan segala profesi pasti sudah akrab dengan medsos. Bahkan tidak jarang pula, ibu-ibu yang sengaja memperkenalkan anak batitanya dengan medsos. Yah, mungkin ini karena pengaruh perkembangan teknologi di era ini yang semakin pesat dan setiap orang mungkin tidak mau melewatkan kesempatan untuk bergulat dan menjelajah keliling dunia melalui media sosial.
Tahukah kalian? Berita-berita atau tulisan yang ditulis oleh akun seseorang di media sosial facebook memuat informasi yang sangat beragam. Kita bisa menemukan segala informasi tentang beasiswa pendidikan, berita-berita tentang kriminalitas, politik, informasi kesehatan, dakwah keagamaan bahkan sampai berita yang mengandung konten negatif, seperti pornografi. Semua orang bebas membaca berita-berita tersebut, karena tujuan berita itu ditulis adalah memang untuk dibaca oleh semua orang. Bahkan beberapa berita telah berhasil menarik nitizen untuk membagikan (men-share) berita-berita tersebut hingga menjadi ‘viral’. Hanya tinggal meng-klik ‘share’, berita itu langsung menyebar bagaikan bunga dandelion yang tertiup angin, wusss….sangat cepat sekali. Bayangkan saja jika akun facebook Anda memiliki 1000 akun teman, berati kemungkinan 1000 akun teman Anda akan membaca berita yang Anda bagikan. Terlebih lagi, jika Anda seorang penulis yang suka sekali memuat tulisan Anda di akun Facebook Anda, kemudian teman membagikan tulisan Anda, lalu temannya teman membagikan tulisan Anda, dan demikian seterusnya. Woww… bisa dibayangkan Ini merupakan penyebaran informasi yang sangat fantastik dan paling efektif. Seluruh orang di dunia bisa membaca tulisan yang Anda unggah atau tulisan akun lain yang Anda bagikan.
Bahayanya, sering kali berita-berita yang dibagikan justru mengandung konten yang negatif, seperti pornografi, tindakan penebar kebencian, hoax, dan informasi-informasi yang membuat pertentangan di antara nitizen. Ujung-ujungnya terjadi hal-hal yang tidak diharapkan namun dianggap ‘lumrah’ seperti saling menghina, menjelek-jelekan, fitnah berterbaran dimana-mana, bulliying, dan gosib untuk mempermalukan orang lain. Kalau berita-berita yang di-share bermanfaat, menambah wawasan, serta meningkatkan rasa persatuan dan kecintaan terhadap agama dan tanah air, tidak masalah untuk dibagikan. Malahan dapat menambah pahala karena menebar benih-benih kebaikan. Nah lho kalau sebaliknya, berita yang disebarkan itu Hoax dan fitnah, mengandung konten pornografi, dan konten negatif lainnya bagaimana? justru malah menambah dosa kan?
Contohnya kasus yang baru aku ketahui di dunia facebook saat ini (Juli 2017) berasal dari kotaku sendiri, Jepara. Dua orang remaja (aku tidak ingin menyebut namanya) yang sedang melakukan perbuatan yang ‘tidak senonoh’ yang kebetulan tertangkap oleh kamera seseorang. Lalu seseorang tersebut mengunggah video tersebut ke facebook. Dalam hitungan detik, video tersebut tersebar dan menjadi viral. Semakin banyak nitizen yang men‘share’ video tersebut, ntah tujuannya mempermalukan kedua orang tersebut atau yang lain. Tidak hanya itu, beribu-ribu komen negatif, marah, dan hinaan langsung muncul silih berganti. Sampai-sampai nama pemilik akun pelaku dalam video tersebut dengan mudah dilacak. Dari akun tersebut bisa dilacak nama, alamat, sekolah, umur, dan lain-lain. Woww….Luar biasa sekali nitizen masa kini, bisa dibilang seperti ‘detektif andalan’. Kalau menurutku sih ini bisa menjadi ‘sanksi norma sosial’ yang tegas dan keras bagi kedua remaja tersebut, supaya sadar kalau perbuatan yang mereka lakukan itu salah dan tidak dibenarkan baik dari sudut pandang agama, sosial, dan hukum. Istilah bekennya mereka ‘tercyduk’ dan pantas menerima sanksi. Mungkin karena viralnya video tersebut, keluarga, tetangga, kerabat, teman-teman, guru akan tahu kesalahan mereka. Tambah lagi deh sanksinya. Paling tidak, kedua remaja tersebut akan jadi bahan perguncingan dan paling parah mungkin akan dikucilkan. Itu konsekuensi. Berani bertindak, ya harus menerima segala konsekuensinya.
Yang aku tidak habis pikir adalah aku heran, mengapa sebagian besar nitizen senang sekali meng ‘viral’ kan berita atau informasi yang mengandung konten negatif seperti kasus tersebut? Apalagi dengan menyertakan tanda hastag (#) pada kata, membuat berita itu mudah dicari dalam hitungan detik. Benar, supaya kedua remaja tersebut dapat sanksi atas perbuatan mereka. Aku juga setuju akan hal itu. Namun, jika berita tersebut dibaca atau video tersebut tak sengaja ditonton oleh pemilik akun facebook yang masih anak-anak bagaimana? Karena kebanyakan anak-anak SD dan SMP zaman sekarang sudah memiliki akun facebook dan juga mereka memiliki rasa ingin tahu atau istilah bekennya ‘kepo’ yang tinggi sekali. Bisa kebayangkan bagaimana pengaruhnya? ‘sungguh berbahaya’, anak kecil disuguhi dengan tontonan seperti itu. Bahkan, setelah aku amati, ternyata sebagian besar yang men‘viral’kan berita tersebut adalah anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Astagfiruallah. Mungkin kebanyakan dari mereka menganggap hal ini adalah bahan lelucon dan hiburan. Namun, sangat disayangkan, karena usia anak sekolah sebaiknya belajar giat meningkatkan prestasi. Adapun internet difungsikan sebagai fasilitas untuk membuka jendela dunia, yah tentunya dalam rangka meningkatkan prestasi.
Jadi menurutku, jangan asal-asalan membagikan berita di facebook yah…think smart dulu deh, pikirkan dampak yang akan terjadi. Okay! Kalau beritanya menebar kebaikan, silahkan bagikan :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar