Aku menyaksikan dan mengamatinya sendiri bagaimana anak sekolahan zaman sekarang menunjukkan prilaku yang tidak bisa dibenarkan. Tidak disiplin dalam memakai seragam, berbicara atau ngobrol dengan teman saat pelajaran, memain-mainkan meja (dalam bahasa jawa ‘klotekan atau gendangan’), tidur, bermain HP, bahkan berbicara kasar, tidak sopan dan ‘saru’ pada guru. Tidak perlu ditanya, sudah berapa kali diingatkan. Namun, tetap saja, sulit untuk diubah. Hanya sebagian kecil saja yang benar-benar memperhatikan dan memang ingin tahu, lainnya asyik dengan dunia mereka sendiri. Dan, aku sangat mengapresiasi mereka yang bersungguh-sungguh dalam belajar. Awalnya aku berpikir, mungkin karena aku masih terlalu muda untuk mengajarinya atau mungkin karena waktu itu aku adalah guru baru. Jadi, wajar saja, jika mereka belum menerimaku dan menerima segala apa yang kuberikan untuk mereka. Namun, ternyata sama saja. Guru senior pun diperlakukan sama, kecuali guru yang notebenenya memang ‘killer’, tegas dan berkedudukan tinggi. Aku selalu memikirkan cara bagaimana bisa mengubah prilaku yang ‘tidak menghargai guru’. Nilai rendah yang ku berikan pada mereka pun tak membuat mereka jera, sama sekali tak mengubah prilakunya. Mereka sama sekali tidak peduli. Dinasehati, tak didengarkan. Di minta berdiri di depan kelas, tak ada yang bangun dari tempat duduknya. Di minta keluar kelas, malah senang. Aku tidak tahu apa yang mereka inginkan. Haruskah aku memukuli satu-persatu siswa ku yang membangkang? Kalau itu aku lakukan, bisa-bisa aku didatangi oleh orang tua mereka dan kena marah tanpa penjelasan. Kalau di kota dan orang tuanya berada, mungkin aku sudah dilaporkan ke polisi dan harus berhadapan dengan UU No. 23 Tahun 2002, tentang Perlindungan Anak. Karena akhir-akhir ini banyak kasus dan menjadi trending topik dimana guru terkena hukum pidana karena memukuli siswa.
Entah kenapa aku merasa ada perbedaan yang sangat jauh antara anak sekolahan zaman dahulu dengan zaman sekarang, bagaikan bumi dan langit. Mungkin bukan hanya aku yang merasakan, namun beberapa pendidik dan pengamat pendidikan juga merasakan hal yang sama. Dinamika tingkah laku remaja sangat rentan dipengaruhi oleh lingkungan tempat tinggal dan juga kemajuan teknologi. Remaja lebih suka menghabiskan waktunya di dunia maya, seperti facebook, instagram, game online, dibandingkan belajar. Ini mungkin telah menjadi hobi dan kebutuhan. Bahayanya, seringkali media sosial ataupun internet menyajikan konten yang menyimpang, seperti pornografi, kekerasan, saling menghina (bullying), komentar atau menulis status dengan bahasa kasar dan lain-lain. Kita tidak pernah tahu, apakah mereka mampu menggunakan medsos dan internet dengan bijak atau tidak. Mungkin saja mereka mendapatkan sisi negatif dari medsos dan internet tanpa mereka sadari. Tentu hal ini akan mempengaruhi kehidupan sosial mereka di dunia nyata.
Tentu, aku tidak bisa membandingkan pola kehidupan sosial zaman dahulu dengan sekarang begitu saja. Pada zamanku dulu, medsos baru ‘lahir’, dan pengaruhnya tidak se ‘fanatik’ sekarang. Dulu belum ada smartphone. Punya handphone yang bisa dibuat internetan saja sudah senang dan kebanyakan dimiliki oleh orang-orang dari kerluarga yang berada. Handphone dimanfaatkan untuk hal-hal yang perlu. Tidak seperti zaman sekarang, baik miskin ataupun kaya, hampir semuanya sudah memiliki smartphone canggih yang bisa menjelajah keseluruh dunia. Tidak perlu ditanya dan diajari, mereka sudah akrab dan langsung mahir kalau urusan teknologi informasi.
Aku jadi kembali teringat, pada zaman aku sekolah dulu, dimana teman-temanku sangat berfokus dalam pelajaran, les sana sini, dan berusaha mendapatkan yang terbaik. Sekolah mereka dibiayai oleh orang tuanya dan itu tidak murah, tentunya mereka ingin menjadi kebanggaan keluarga dan tidak ingin mengecewakan keluarga, termasuk aku. Ini bukan beban. Namun, ini adalah kewajiban kita sebagai anak sekolah untuk belajar dan berprestasi. Kalau siswa melanggar aturan, siswa tidak keberatan menerima sanksi yang diberikan oleh guru. Ini namanya pertanggungjawaban. Dulu aku pernah tertidur di kelas, sampai-sampai aku tak bisa menyangga kepalaku, dan ku letakkan di meja. Beberapa saat kemudian, hempasan tangan guruku mendarat di kepalaku. Sakit sih, namun itu tidak seberapa, dibandingkan rasa maluku karena memang sudah diperingatkan berkali-kali pada pelajaran beliau untuk tidak tidur. Yah, itu bagian dari disiplin. Sebenarnya jika aku ngantuk, gampang saja, tinggal aku izin keluar, dan membasuh wajahku dengan air. Dengan begitu aku tak perlu menerima tamparan itu. Ketika ramai saat pelajaran, guru tak perlu berteriak-teriak menyuruh kami diam, cukup dengan memelototkan mata pada kami dan bicara seperlunya, kamipun langsung tak berkutik lagi. Tugas yang lupa tak dikerjakan menjadi masalah besar bagi kami, entah takut tidak dapat nilai atau khawatir jika disuruh mengerjakan di depan. Namun sekarang, suasananya telah berbeda. Siswa cenderung tidak peduli. Yah, hanya ‘sebagian kecil’ saja yang aware, yang lainnya sama sekali tidak peduli. Entah itu terjadi hanya pada sekolah tertentu saja atau yang lainnya juga.
Kenapa bisa seperti itu? Lalu, siapa yang bertanggung jawab atas prilaku remaja anak sekolahan masa kini? Menurutku ini adalah tanggung jawab kita bersama, baik orang tua, siswa itu sendiri, dan guru. Percuma saja kalau di sekolah guru berusaha mengubah prilaku siswa menjadi lebih baik, jika siswa tidak bisa menerima atau orang tua/keluarga di rumah tidak mendukung. Kesadaran siswa untuk berubah menjadi lebih baik juga penting. Orang tua/keluarga di rumah sebaiknya mengetahui bagaimana prilaku dan kehidupan sosial anak-anaknya, tidak perlu dimanja diberikan motor mewah, handphone mewah, dan lain-lain.
Tidak bisa dipungkiri juga bahwa tidak sedikit siswa memang memanfaatkan perkembangan teknologi dengan baik dan bijak, sehingga dapat meningkatkan prestasinya di sekolah, kehidupan sosialnya juga baik, bahkan bisa meningkatkan kemampuan berkomunikasi, menganalisis, berpendapat (berargumen), dan juga mendapatkan informasi-informasi pengetahuan. Dan, aku sangat mengapresiasi mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar