Senin, 17 Juli 2017

IPS dapat 4.00, senang atau sedih?


*maaf tulisan ini dibuat bukan bermaksud untuk menyombongkan diri atau 'alay'. Ini adalah tentang bagaimana kesanku untuk pertama kalinya mendapat IPS 4.00. Sekali lagi ini hanya tentang bagaimana perasaanku dan aku ingin berbagi pengalaman saja. Peace!!, hehehe :D

Screenshoot di atas adalah hasil studi (IPS) ku di semester 2 pascasarjana Biologi UGM 2016/2017. Yah, untuk pertama kalinya aku mendapatkan IPS 4.00. lantas apakah aku harus senang atau sedih? Mahasiswa mana yang tak senang mendapatkan IPS 4.00?

Di saat hari yang sama dengan keluarnya nilai IPSku, aku membaca salah satu tulisan dari seorang dosen yang mengajar di universitas yang ada di Jepara. Dari tulisan itu, aku menyimpulkan bahwa menurut beliau IP itu tidak penting, yang terpenting adalah bagaimana kita bisa lulus dari universitas kehidupan. Yah, kehidupan dunia kerja, karena menurutnya IP tidak menjamin kesuksesan seseorang.

Bahkan di dalam tulisannya, ia sangat mengapresiasi ujian yang bersifat open book karena dapat mengukur dapa berpikir kritis dan bisa mengetahui bagaimana cara kita menanggapi suatu fenomena. Yah aku setuju dengan hal ini. Tapi sayangnya selama ini, dosen-dosenku di UGM selalu menerapkan ujian yang sifatnya close book dan bahkan tidak jarang pertanyaan yang disodorkan juga memerlukan daya penalaran.

Setelah ku teruskan membaca tulisannya lagi, beliau seolah ‘memandang sebelah mata’ ujian yang sifatnya close book karena hanya mengukur kemampuan kognisi saja. Kalau aku memiliki pemikiran yang lain. Menurutku, ini tergantung pada tipe pertanyaannya, bukan persoalan close book atau open book. Menurutku, open book justru merepotkan mahsiswa karena sudah terlalu jelas, jawaban pasti tidak ada di buku. Ini seolah-seolah ‘memberikan angin segar’ bagi mahasiswa untuk tidak belajar. ‘Ah, ujiannya open book, belajar nanti aja’. “Ah, ujiannya open book, gampang, gak usah belajar, paling bisa dinalar’. Dalam benakku, iya kalau daya nalarnya waktu itu ‘Mak nyoss’, kalau tidak bagaimana bisa menjawab soal? Bisa-bisa untuk nulis 1 kalimat aja membutuhkan waktu 30 menit.

Justru aku lebih suka ujian yang sifatnya close book. Alasannya karena ini memaksaku untuk belajar dan membaca materi. Kalau menurutku hafalan itu perlu. Percuma kemampuan daya nalarnya tinggi, kalau tidak ingat dengan istilah atau kata kunci yang penting dalam menjawab pertanyaan atau soal. Saya bersyukur memiliki daya ingat yang cukup tinggi (longterm memory). Tapi sekali lagi, ini bukan persoalan kemampuan kognisi. Ini adalah tentang bagaimana ujian close book menstimulasi kita untuk belajar lebih ekstra. Karena jika kita tahu kata kucinya, bahkan 1 kalimat penting bisa dijabarkan menjadi 1 paragraf hanya dalam waktu 5 menit. Tidak perlu waktu yang lama dalam menganalisis soal. Ingat, waktu terus berjalan kawan!. Kalau terlalu lama berpikir, tentu waktunya akan habis bukan?

Beberapa orang senang dan mengapresiasi mahasiswa yang IPnya 4.00. Mereka memuji bahwa mahasiswa tersebut pintar, berprestasi, dan lain-lain. Namun faktanya, tak sedikit pula orang yang meng’underestimate’ bahwa mahasiswa yang IPnya 4 belum tentu sukses dalam pekerjaan. Mereka hanya tau teori saja, sedangkan praktiknya 0. Banyak dari mereka yang setelah lulus hanya jadi guru, atau mendapatkan pekerjaan yang tidak sesuai keahliannya, dan lain-lain. Mereka tidak pernah ikut organisasi kemahasiswaan, mereka tidak pernah ikut demo dan memikirkan kepemerintahan. Hey, I suggest you to stop thinking like that! Hidup itu pilihan, biar saja mereka menentukan apakah mereka akan ikut organisasi kemahasiswaan atau tidak, apakah mereka mau ikut demo atau membaca jurnal. Kalian tidak pernah tahu bagaimana cara mereka belajar dan bagaimana usaha mereka untuk belajar lebih ekstra dibandingkan mahasiswa yang IPnya dibawah 3. ini fair!. Bayangkan saja, disaat yang lain pergi untuk nonton bioskop di mall, mereka sibuk belajar karena akan UAS. Apakah tak layak, jika mereka yang belajar mendapat nilai A?. Demikian halnya juga yang aku alami. Nilai A yang ku dapatkan bukan semata-semata hasil dari nilai UTS dan UAS saja, tapi banyak tugas yang harus kuselesaikan dan kumpulkan, banyak jurnal yang harus ku baca dan dibuat ringkasan, banyak ppt yang aku buat dan ku presentasikan. Aku kembali teringat bahwa yang terpenting adalah ilmu yang didapat dan mampu diaplikasikan. Nilai A itu seolah merupakan bonus dan layak untuk didapatkan bagi mereka yang mau belajar. Aku juga setuju dengan pemikiran dosen tadi, bahwa tidak ada mahasiswa yang pintar, yang ada hanyalah mahasiswa yang tahu lebih dulu. Dan belajar serta membaca adalah salah satu cara untuk menjadi tahu lebih dulu. Lantas, jika belajar untuk tahu lebih dulu, bukan hal yang tidak mungkin untuk mendapatkan nilai A bukan? Bagiku nilai A itu adalah ‘semacam penyemangat’ untukku supaya aku mau berusaha belajar dan membaca. Mungkin kalian semua tidak sepemikiran denganku. Tidak mengapa. Tapi, yang jelas aku senang mendapatkan IPS 4.00. Ini adalah adalah hadiah dari Allah atas kerja kerasku selama ini. Aku selalu mensyukuri segala apa yang menjadi kekurangan dan kelebihan yang ada pada diriku. Tentu aku tidak akan membiarkan pemikiran yang underestimate terjadi padaku, karena parameter kesuksesan setiap orang berbeda-beda, pun tergantung bagaimana cara kita meraihnya dan aku selalu ingat, bahwa dibalik setiap kesuksesan pasti selalu ada kekuasan Allah. Aku percaya nasib dan rizki seseorang telah diatur oleh Allah SWT.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar