Rabu, 05 Juli 2017

Berlibur ke Pulau Eksotis, Pulau Panjang

Berlibur ke Pulau Eksotis, Pulau Panjang

Foto penulis di gapura pintu masuk Pulau Panjang, Jepara
(sumber: dokumen pribadi)

Siapa yang belum pernah ke Pulau Panjang? Bagi masyarakat Jepara akan dibilang tidak gaul, tidak up to date, kuper, dan lain-lain, jika belum pernah ke Pulau Panjang. Hal ini dikarenakan Pulau Panjang berada di kabupaten Jepara dan akhir-akhir ini menjadi salah satu destinasi wisata yang populer di Jepara. Sebenarnya saya sendiri yang saat ini berusia 24 tahun dan juga merupakan warga Jepara, baru menginjakkan kaki di Pulau Panjang setelah 19 tahun silam. Selama ini saya belum bisa menghilangkan trauma ‘mabok laut’ yang pernah ku alami ketika masih berumur 5 tahun. Ketika saya sudah dewasa pun, saat kondisi psikologis saya sudah stabil (tidak mabok laut lagi), saya terlalu menyibukkan diri belajar di kota lain (Semarang dan Yogyakarta) selama hampir 6 tahun, sehingga belum sempat berkunjung ke Pulau Panjang. Saat ini, saya sedang menjalani studi program pascasarjana jurusan Biologi di UGM Yogyakarta.
Minggu, 19 Maret 2017, tepatnya pukul 08.30 WIB, saya tiba di Pantai Tirto Samudra Bandengan, Jepara. Perlu waktu sekitar 45 menit untuk menempuh perjalanan dari rumah menuju Pantai Tirto Samudera Bandengan. Setelah itu, saya bergegas menuju dermaga penyeberangan ke Pulau Panjang. Saya bertemu dengan Bapak Sarman (58 tahun), yang bekerja sebagai pusat informasi penyebrangan ke Pulau Panjang dan bertanya kepadanya mengenai Pulau Panjang. “Perlu waktu sekitar 20 menit mbak untuk menyeberang ke Pulau Panjang”, Ujar Bapak Sarman. Lalu, saya segera turun ke perahu motor bermerek ‘Wisata Bahari’ untuk menyebrang. Biaya penyeberangan cukup murah, hanya dengan merogoh kocek Rp. 20.000,00 (tiket sudah termasuk PP), kita bisa menyaksikan dan menikmati Pulau Panjang yang eksotis.
Dermaga pantai Tirto Samudra bandengan, Jepara (sumber: dokumen pribadi)
Perahu motor ‘Wisata Bahari’ (sumber: dokumen pribadi)

Pukul 08.52 WIB, tampaknya jumlah penumpang yang menaiki perahu motor Wisata Bahari sudah mencukupi kuota. Tali perahu segera dilepas, mesin dihidupkan, perlahan-lahan perahu melaju ke tengah lautan. Ini pengalaman pertama saya setelah 19 tahun silam tidak menaiki perahu motor. Perasaan was-was sedikit muncul, namun perasaan was-was itu segera saya tepis karena melihat indahnya pemandangan di pantai dan juga kilauan hamparan air laut yang tampak mempesona. Waktu itu, gelombang air laut tidak begitu besar, sehingga perahu berlayar dengan tenang. Dari kejauhuan tampak Pulau Panjang yang begitu eksotis dan rimbun. Saya kagum atas ciptaan Allah dan bersyukur masih diberi kesempatan untuk menyaksikan keindahan alam ciptaanNya. Tidak lupa, saya mengabadikan momen itu dengan mengambil fotonya.
Penampakan Pulau Panjang dari kejauhan (sumber: dokumen pribadi)
Pukul 09. 19 WIB, perahu motor Wisata Bahari tiba di dermaga Pulau Panjang. Perahu menempuh jarak sekitar 4 km dari dermaga Pantai Tirto Samudra Bandengan. Saya segera naik dan berjalan ke arah pintu masuk. Perlu merogoh kocek lagi sebesar Rp. 5.000,00 untuk tiket masuk ke Pulau Panjang. Para wisatawan boleh menghabiskan waktu sepuas-puasnya, asalkan jika ingin kembali ke Pantai Tirto Samudera Bandengan, harus menaiki perahu yang bermerek Wisata Bahari lagi. Pasalnya, ada perahu dengan merek lain, yaitu Sapta Pesona, yang berlayar dari dermaga Pantai Kartini, Jepara.
Saya memulai ‘ekspedisi’ saya di Pulau Panjang. Suasana tampak masih sepi, belum begitu banyak wisatawan, mungkin karena masih terlalu pagi. Di pintu masuk, saya melihat papan pengumuman dari Pemerintah Kabupaten Jepara, untuk tidak melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. Saya mulai berjalan mengikuti jalan setapak. Terlihat beberapa penjual yang sedang mempersiapkan dagangannya untuk dijual. Pulau dengan luas kurang lebih 7 hektar ini, sebenarnya tidak berpenduduk. Para penjual merupakan pendatang dari kabupaten Jepara. Di Pulau Panjang terdapat makam Syeikh Abu Bakar Bin Yahya Ba’alawy, atau yang dikenal dengan sebutan Kyai Panjang. Hal ini menjadi daya tarik wisatawan muslim untuk melakukan wisata religi. Di dekat makam, berdiri bangunan masjid kecil yang cukup kokoh untuk tempat ibadah. Selain masjid dan makam, bangunan permanen yang ada disana adalah toilet, tempat duduk, dan beberapa gazebo di tepi pantai.

Papan pengumuman dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Jepara (sumber: dokumen pribadi)
Pedagang ikan asin di Pulau Panjang (sumber: dokumen pribadi)


Makam Syeikh Abu Bakar Bin Yahya Ba’alawy (Kyai Panjang) 
(sumber: dokumen pribadi)



Jalan setapak menuju hutan di Pulau Panjang (sumber: dokumen pribadi)
      Saya melanjutkan perjalanan lagi menuju hutan. Di Pulau ini terdapat hutan yang merupakan tempat perkembangbiakan alami satwa darat. Saya melihat pohon-pohon yang masih rimbun. Beberapa pohon yang dekat tepi pantai sudah terpasang papan identitas pohon (nama lokal, nama ilmiah, famili, dan asal), seperti pohon kelor, akasia, lamtoro, ketapang, cemara, dan lain-lain. Tumbuhan yang ada dihutan ini masih bervariasi, seperti halnya hutan hujan tropis, mulai dari tumbuhan tingkat rendah sampai tingkat tinggi.

Papan identitas pohon kelor (sumber: dokumen pribadi)


Papan informasi keanekaragaman hayatu biota laut di Pantai Pulau Panjang (sumber: dok pribadi)
Setelah berjalan mengelilingi hutan, saya kembali ke tepi pantai. Saya melihat papan yang memuat informasi mengenai keanekaragaman hayati di perairan kawasan taman pulau kecil, pulau panjang. Dari papan tersebut didapatkan informasi mengenai spesies-spesies yang tinggal di perairan kawasan Pulan Panjang, di antaranya: kelompok karang (Pectinia paeonia, Platygira lamellina, Platygira pini, Platygira verweyi, dan lain-lain), kelompok lamun (Cymodocea rotundata, Enhalus acoroides, Halodule pinifolia, dan lain-lain), dan kelompok ikan (Parachaetodon acellatus, Phemperis sp, Siganus linneatus, Amphiprion sp, dan lain-lain). Di tepi pantai, terdapat Camp area. Waktu itu, saya melihat 3 buah tenda yang berdiri menghadap pantai. Di sana juga ada tempat penyewaan perlengkapan diving yang dikelola oleh pihak swasta. Namun, perlu diingat dan dilaksanakan, bahwa ketika diving, harus hati-hati dan jangan sampai merusak karang.

Pesisir pantai Pulau Panjang, Jepara (sumber: dokumen pribadi)

Foto penulis di depan tulisan Taman Pulau Kecil Pulan Panjang
(sumber: dokumen pribadi)
Waktu menunjukkan pukul 10.50 WIB, saya beristirahat sejenak di dekat dermaga, menikmati sebungkus snack (makanan ringan) dan sebotol air mineral. Saya melihat berberapa perahu motor yang menuju ke sini. Tampaknya, jumlah wisatawan semakin banyak. Banyak rombongan keluarga yang berbondong-bondong untuk menghabiskan hari liburnya di Pulau Panjang. Sebelum kembali ke Pantai Tirto Samudera Bandengan, tidak lupa saya mengabadikan momen di Pulau Panjang, dengan berfoto di tulisan Taman Pulau Kecil Pulau Panjang yang dibangun oleh kerjasama Pemerintah Kabupaten Jepara dan beberaapa instansi. Waktu menunjukkan pukul 12.10. Saya kembali menyeberangi lautan menggunakan perahu motor Wisata Bahari menuju Pantai Tirto Samudera Bandengan. Saya kembali menikmati pemandangan laut. Kali ini, lalu lintas di laut tampak ramai. Selain perahu wisata, ada beberapa perahu nelayan yang sedang beroperasi. Sungguh pengalaman yang menyenangkan dan membuat saya selalu ingin kembali lagi di lain hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar