Senin, 17 Juli 2017

Jangan malu untuk bertanya



Pernahkah kamu menghadapi kebingungan? Tidak tau apa yang harus dilakukan? Ragu dalam mengambil keputusan? Menerka-nerka persoalan yang belum tentu dijamin kebenarannya?

Ya. Aku pernah mengalami hal demikian. Selama perjalanan hidupku, aku sering bahkan selalu dihadapkan persoalan-persoalan yang membuat otakku ‘nggrundel’ bak gumpalan benang ruwet. Tak tahan menampung benang yang semakin ruwet, aku mencoba menguraikan helaian demi helaian dengan cara bertanya pada seseorang. Seseorang yang aku anggap bisa menjawab semua daftar pertanyaan-pertanyaan yang ada di otakku. Ini mirip istilah ‘Kepo’, tapi kepo yang positif. Ini bukan persoalan mencari gosip, namun persoalan dalam mencari solusi dalam menyelesaikan masalah yang pelik.

Pernah suatu ketika saat aku kebingungan dalam penyusunan proposal skripsi, saat dimana aku tak tahu bagaimana seharusnya aku menghadapi dosen pembimbingku. Aku sadar tips dari orang yang berpengalaman itu penting. Aku tak tanggung-tanggung menurunkan urat maluku untuk bertanya pada kakak tingkat yang telah lulus dan dibimbing oleh dosen yang sama ataupun dosen lain. Hanya dengan bermodal ‘Assalamlualaikum’ dan memperkenalkan diri dengan bahasa yang sopan dalam  pesan singkat (SMS), mereka menanggapi semua pertanyaan ku dengan ramah dan detail. Bahkan tak jarang, mereka bersedia untuk bertemu dengan ku secara langsung dan berbagi pengalaman.

Kedua kalinya, saat aku kebingungan ketika akan mendaftar beasiswa studi lanjut S2 dari LPDP, saya tak tanggung-tanggung menepis rasa malu dan bertanya pada salah 2 orang yang tidak aku kenal sebelumnya. Seseorang yang aku tahu dari media sosial facebook, yang profilnya menunjukkan bahwa mereka alumni UNNES. Merasa bahwa aku dan mereka satu almamater, aku beranikan untuk menyapa mereka lewat chat facebook. Dengan pedenya aku perkenalkan diriku dan mengutarakan maksud dan tujuanku. Alhamdulillah mereka menanggapi semua pertanyaanku dengan ramah. Satu demi satu pertanyaan telah dijawab, dan aku akhiri dengan ucapan terimakasih.

Kini, aku dihadapkan dengan penelitian tesis yang benar-benar membuat aku merasa frustasi. Mungkin karena aku yang belum terbiasa. Ini kali pertama aku melakukan penelitian murni. Ya, studiku di S1 dengan background pendidikan biologi, namun kini di pascasarjana, aku mengambil jurusan biologi murni. Ini yang membuatku berpikir, belajar dan berkerja lebih ekstra dari biasanya. Aku belum cukup familiar dengan uji aktivitas enzim Superoxide Dismutase (SOD), uji Malondyaldehide, dan lain sebagainya. Aku juga tidak tahu dimana lokasi green house yang nantinya akan aku gunakan dalam menanam padi dan juga tidak tahu laboratorium yang mana yang akan ku gunakan untuk mengukur parameter penelitian yang aku tetapkan. Sungguh, aku merasa awam dan belum bepengalaman. Bak anak SMA yang baru lulus langsung mengambil S2. Kadang aku merasa paling bodoh dan tertinggal di antara teman-temanku. Namun, lagi-lagi aku kumpulkan keberanian untuk bertanya pada salah dua orang yang tidak aku kenal sebelumnya. Aku tahu bahwa penelitian mereka hampir mirip dengan ku. Aku cari nomor WA.nya. Yah, ketemu. Satu dari mereka aku dapatkan nomor WAnya dari seseorang yang juga tidak aku kenal sebelumnya. Sekali lagi, hanya bermodoal ‘Assalamualaikum’ dan memperkenalkan diri dengan bahasa yang sopan, mereka menanggapi pesanku dengan ramah dan menjawab satu demi satu pertanyaan yang aku tanyakan.

Alhamdulillah, aku selalu dikelilingi dengan orang-orang baik. Aku selalu berdoa semoga orang-orang baik ini dimudahkan segala urusannya, dilancarkan rizkinya dan diberi kesuksesan semasa hidupnya. Aku juga ingin berusaha menaladani sikap mereka, dan terbuka ketika ada seseorang yang membutuhkan pertolongan. Pesan yang dapat aku ambil dari semua ini adalah jangan malu untuk bertanya, kepolah yang positif, tentu dirimu akan lebih yakin dalam mengambil keputusan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar