Rabu, 11 Oktober 2017

DILEMA MENGGUNAKAN What’s App



       Kecanggihan teknologi saat ini memudahkan kita dalam berkomunikasi bahkan berdiskusi. Siapa yang tidak mengenal What’s App (WA). Aplikasi ini paling diminati oleh masyarakat untuk berkomunikasi dengan mengandalkan kuota internet setelah BBM.  Selain ringan, fitur-fitur ditawarkan oleh aplikasi ini sangat menguntungkan, seperti membuat voice call, video call, unduh berbagai format file (.jpg, .pdf. pptx, word, mp3 dll), serta membuat status.  Saat mengirim pesan teks, kita bisa melakukan copy-paste, editing, meng forward, menanggapi chat, dan mengirim berbagai macam emote yang lucu. Paket lengkap pokoknya.

       Sama seperti bbm, di What’s app juga bisa mendeteksi apakah pesan yang kita kirim sudah di read apa belum. Kalau tanda centang 2  bewarna biru berarti sudah di read. Namun, yang menyebalkan adalah terkadang sebagian teman-teman sengaja menyembunyian tanda read. Terkadang aku heran, apa untungnya coba? Bikin sebel iyaa….setuju gak? Lebih baik di read namun tidak dibalas karena itu bearti setidaknya pesan kita sudah tersampaikan. Nah lo, kalau orang yang kita kirimin pesan sengaja menonaktifkan tanda read, kita bakalan kesel sendiri dan was-was. Apalagi, pesan yang kita sampaikan menurut kita penting dan harus dibaca.
       
      What’s App juga mempermudah kita dalam menjalin komunikasi dalam suatu komunitas melalui grup. Biasanya yang paling banyak grupnya di What’s App adalah akun seorang mahasiswa. Contohnya seperti aku (hahaha). Mulai dari grup alumni SMA, grup alumni S1, grup dolan SMA, grup organisasi kampus (belum lagi kalau organisasinya lebih dari 1), grup PK LPDP, grup PB kelas A, grup PB UNY,  grup peminatan s2, grup mata kuliah S2 (kalau yang ini tiap makul pasti ada grupnya untuk memudahkan pengumuman pergantian jadwal, diskusi dan pemberian tugas), grup kepanitian acara (kalau yang ini setiap ada acara baru wajib bikin grup baru), dan lain-lain. Wow banyak sekali. Kalau kalian ada berapa grup di aplilkasi WA? Hahaa…..Yang bikin sebal adalah tiap hari notice selalu muncul dari grup, ntah itu chat yang penting dan tidak penting. Ini membuat boros batere.  Namun, untungnya bisa disilent, jadi tak perlu lah mendengarkan lagi bunyi ‘teng-teng’ dari smartphone kita.

Sebenarnya grup WA menguntungkan atau malah mengganggu?
    Kalau dilihat dari manfaatnya, tentunya adanya grup sangat bermanfaat. Bayangkan saja, saat ketua mata kuliah ingin menshare materi ppt dosen, Ia tak perlu mengirim satu-satu ke semua mahasiswa. Bikin repot. Tinggal unggah di grup beres. Kalau yang mantau grup pasti file tersebut akan didownload (makanya…rajin-rajian yah lihat grup, apalagi mau mendekati ujian hahaha). Satu hal yang menguntungkan lagi jika kita ingin menghubungi atau mengirim pesan ke sesorang secara pribadi pada teman kita, namun kita lupa menyimpan nomor telepon atau secara sengaja tidak menyimpan nomor teleponnya, kita bisa mencari nomornya dalam grup yang sama dengan kita. Pernah melakukannya? haha

     Namun, adakalanya kita tergabung dalam grup yang membuat kita merasa tidak nyaman. Awalnya, senang dan ingin sekali diinvite dalam grup.  Namun lama kelamaan, grupnya jadi membosankan. Ada 3 tipikal grup menurutku. Grup pertama adalah grup yang sangat penting dan kita diterima dengan baik, berkomunikasi dengan baik, segala file yang diunggah insyaallah bermanfaat, meskipun terkadang juga dibubuhi oleh guyonan biar tidak serius terus (biasanya grup angkatan atau mata kuliah).  Grup kedua adalah grup yang dibuat dengan anggota yang cukup banyak namun terkesan tidak ada “tanda-tanda kehidupan” (alias sepi kayak kuburan). Pengen left tapi tidak enak hati, dikira sombong entar. Grup ketiga adalah grup dengan anggota yang cukup banyak namun kita merasa bukan bagian dari grup tersebut. Ada? Banyak. Terkadang kita baru menyadari adanya rasa tidak nyaman dalam grup. Pertama kali masuk sih welcome, disambut ramah. Namun, saat chat kita tidak direspon, dapat menjadi salah satu pemicu untuk melakukan tindakan ‘silent reader’ alias pembaca yang diam (tidak merespon). Kalian pernah melakukan ini? Kalau aku pernah haha, sering malah (peace!!).

        Menurutku ada beberapa alasan yang memicu tindakan ‘silent reader’. Pertama, mungkin dia memang sedang sibuk, hanya sempat membuka chat grup, namun tidak sempat membaca chat secara saksama (ini versi positive thinking). Kedua, chat yang ada digrup tidak penting, jadi hanya di read saja. Nah kalau isi chat penting, pasti akan direspon balik (versi orang yang tidak suka bercandaan, namun ia tidak begitu sibuk). Ketiga. dia sudah tidak berminat lagi untuk chat lagi di grup, karena merasa asing dan malu untuk berinteraksi dengan teman-teman yang ada digrup (versi negative thinking). Jika kalian berapa di posisi grup ketiga, bagaimana perasaan kalian? Pengen left? Hahaha…… galau kan? Mau left tidak enak, tapi kalau tidak left rasanya terganggu. Nih aku beri solusi untuk mengurai kegalauan kalian. Jika kalian benar-benar sudah tidak nyaman dalam grup, kalian bisa japri admin grup untuk menyampaikan permohonaan maaf dan meminta izin keluar grup secara baik-baik dengan mengemukakan alasan-alasanya. Kalau perlu minta dikeluarkan saja, jadi tidak perlu ‘left’. Beres kan?

       Kalau kalian berada di posisi sebagai orang yang memulai chat di grup namun hanya di read saja, tidak direspon sama sekali, tentu menjengkelkan bukan?hahaa. Makanya kalau tidak ingin chat kamu di read aja, maka respon lah chat teman kamu. Insyaallah akan ada rasa kenyamanan dalam grup dan grup telah benar-benar memberikan manfaat untuk kita.
Sebenarnya, yang aku tulis di atas adalah suka duka ku sebagai pengguna aplikasi What’s App. Kalau kalian gimana?

Sekian dulu…..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar