Kecanggihan teknologi saat ini
memudahkan kita dalam berkomunikasi bahkan berdiskusi. Siapa yang tidak
mengenal What’s App (WA). Aplikasi ini paling diminati oleh masyarakat untuk
berkomunikasi dengan mengandalkan kuota internet setelah BBM. Selain ringan, fitur-fitur ditawarkan oleh
aplikasi ini sangat menguntungkan, seperti membuat voice call, video
call, unduh berbagai format file (.jpg, .pdf. pptx, word, mp3 dll), serta membuat
status. Saat mengirim pesan teks, kita bisa melakukan copy-paste, editing, meng forward, menanggapi chat, dan mengirim berbagai macam emote yang lucu. Paket lengkap pokoknya.
Sama seperti bbm, di What’s app
juga bisa mendeteksi apakah pesan yang kita kirim sudah di read apa belum. Kalau tanda centang 2 bewarna biru berarti sudah di read. Namun, yang menyebalkan adalah
terkadang sebagian teman-teman sengaja menyembunyian tanda read. Terkadang aku heran, apa untungnya coba? Bikin sebel iyaa….setuju
gak? Lebih baik di read namun tidak dibalas karena itu bearti setidaknya pesan
kita sudah tersampaikan. Nah lo, kalau orang yang kita kirimin pesan sengaja
menonaktifkan tanda read, kita bakalan kesel sendiri dan was-was. Apalagi,
pesan yang kita sampaikan menurut kita penting dan harus dibaca.
What’s App juga mempermudah kita
dalam menjalin komunikasi dalam suatu komunitas melalui grup. Biasanya yang
paling banyak grupnya di What’s App adalah akun seorang mahasiswa. Contohnya seperti
aku (hahaha). Mulai dari grup alumni SMA, grup alumni S1, grup dolan SMA, grup
organisasi kampus (belum lagi kalau organisasinya lebih dari 1), grup PK LPDP,
grup PB kelas A, grup PB UNY, grup
peminatan s2, grup mata kuliah S2 (kalau yang ini tiap makul pasti ada grupnya
untuk memudahkan pengumuman pergantian jadwal, diskusi dan pemberian tugas),
grup kepanitian acara (kalau yang ini setiap ada acara baru wajib bikin grup
baru), dan lain-lain. Wow banyak sekali. Kalau kalian ada berapa grup di
aplilkasi WA? Hahaa…..Yang bikin sebal adalah tiap hari notice selalu muncul
dari grup, ntah itu chat yang penting dan tidak penting. Ini membuat boros
batere. Namun, untungnya bisa disilent, jadi tak perlu lah mendengarkan
lagi bunyi ‘teng-teng’ dari smartphone kita.
Sebenarnya grup WA menguntungkan
atau malah mengganggu?
Kalau dilihat dari manfaatnya,
tentunya adanya grup sangat bermanfaat. Bayangkan saja, saat ketua mata kuliah
ingin menshare materi ppt dosen, Ia tak perlu mengirim satu-satu ke semua
mahasiswa. Bikin repot. Tinggal unggah di grup beres. Kalau yang mantau grup pasti
file tersebut akan didownload (makanya…rajin-rajian yah lihat grup, apalagi mau
mendekati ujian hahaha). Satu hal yang menguntungkan lagi jika kita ingin
menghubungi atau mengirim pesan ke sesorang secara pribadi pada teman kita,
namun kita lupa menyimpan nomor telepon atau secara sengaja tidak menyimpan
nomor teleponnya, kita bisa mencari nomornya dalam grup yang sama dengan kita.
Pernah melakukannya? haha
Namun, adakalanya kita tergabung
dalam grup yang membuat kita merasa tidak nyaman. Awalnya, senang dan ingin
sekali diinvite dalam grup. Namun lama kelamaan, grupnya jadi membosankan.
Ada 3 tipikal grup menurutku. Grup pertama adalah grup yang sangat penting dan
kita diterima dengan baik, berkomunikasi dengan baik, segala file yang diunggah
insyaallah bermanfaat, meskipun terkadang juga dibubuhi oleh guyonan biar tidak
serius terus (biasanya grup angkatan atau mata kuliah). Grup kedua adalah grup yang dibuat dengan
anggota yang cukup banyak namun terkesan tidak ada “tanda-tanda kehidupan”
(alias sepi kayak kuburan). Pengen left tapi tidak
enak hati, dikira sombong entar. Grup ketiga adalah grup dengan anggota yang
cukup banyak namun kita merasa bukan bagian dari grup tersebut. Ada? Banyak. Terkadang
kita baru menyadari adanya rasa tidak nyaman dalam grup. Pertama kali masuk sih
welcome, disambut ramah. Namun, saat
chat kita tidak direspon, dapat menjadi salah satu pemicu untuk melakukan
tindakan ‘silent reader’ alias
pembaca yang diam (tidak merespon). Kalian pernah melakukan ini? Kalau aku
pernah haha, sering malah (peace!!).
Menurutku ada beberapa alasan
yang memicu tindakan ‘silent reader’. Pertama,
mungkin dia memang sedang sibuk, hanya sempat membuka chat grup, namun tidak
sempat membaca chat secara saksama (ini versi positive thinking). Kedua, chat yang ada digrup tidak penting, jadi
hanya di read saja. Nah kalau isi
chat penting, pasti akan direspon balik (versi orang yang tidak suka bercandaan,
namun ia tidak begitu sibuk). Ketiga. dia sudah tidak berminat lagi untuk chat
lagi di grup, karena merasa asing dan malu untuk berinteraksi dengan
teman-teman yang ada digrup (versi negative
thinking). Jika kalian berapa di posisi grup ketiga, bagaimana perasaan
kalian? Pengen left? Hahaha…… galau
kan? Mau left tidak enak, tapi kalau tidak left rasanya terganggu. Nih aku beri
solusi untuk mengurai kegalauan kalian. Jika kalian benar-benar sudah tidak
nyaman dalam grup, kalian bisa japri admin grup untuk menyampaikan permohonaan
maaf dan meminta izin keluar grup secara baik-baik dengan mengemukakan
alasan-alasanya. Kalau perlu minta dikeluarkan saja, jadi tidak perlu ‘left’. Beres kan?
Kalau kalian berada di posisi
sebagai orang yang memulai chat di grup namun hanya di read saja, tidak direspon sama sekali, tentu menjengkelkan
bukan?hahaa. Makanya kalau tidak ingin chat kamu di read aja, maka respon lah chat teman kamu. Insyaallah akan ada rasa
kenyamanan dalam grup dan grup telah benar-benar memberikan manfaat untuk kita.
Sebenarnya, yang aku tulis di
atas adalah suka duka ku sebagai pengguna aplikasi What’s App. Kalau kalian
gimana?
Sekian dulu…..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar