Sabtu, 29 Juli 2017

Media Sosial: Sarana Penyebaran Informasi yang Jitu

Hai kawan..kali ini aku akan membahas tentang penyebaran informasi melalui media sosial yang menurutku paling efektif alias jitu. Siapa sih yang tidak kenal medsos? Anak-anak kecil zaman sekarang, anak-anak SD, SMP, SMA, perguruan tinggi, pengusaha, karyawan, ibu rumah tangga, dan segala profesi pasti sudah akrab dengan medsos. Bahkan tidak jarang pula, ibu-ibu yang sengaja memperkenalkan anak batitanya dengan medsos. Yah, mungkin ini karena pengaruh perkembangan teknologi di era ini yang semakin pesat dan setiap orang mungkin tidak mau melewatkan kesempatan untuk bergulat dan menjelajah keliling dunia melalui media sosial.

Tahukah kalian? Berita-berita atau tulisan yang ditulis oleh akun seseorang di media sosial facebook memuat informasi yang sangat beragam. Kita bisa menemukan segala informasi tentang beasiswa pendidikan, berita-berita tentang kriminalitas, politik, informasi kesehatan, dakwah keagamaan bahkan sampai berita yang mengandung konten negatif, seperti pornografi. Semua orang bebas membaca berita-berita tersebut, karena tujuan berita itu ditulis adalah memang untuk dibaca oleh semua orang. Bahkan beberapa berita telah berhasil menarik nitizen untuk membagikan (men-share) berita-berita tersebut hingga menjadi ‘viral’. Hanya tinggal meng-klik ‘share’, berita itu langsung menyebar bagaikan bunga dandelion yang tertiup angin, wusss….sangat cepat sekali. Bayangkan saja jika akun facebook Anda memiliki 1000 akun teman, berati kemungkinan 1000 akun teman Anda akan membaca berita yang Anda bagikan. Terlebih lagi, jika Anda seorang penulis yang suka sekali memuat tulisan Anda di akun Facebook Anda, kemudian teman membagikan tulisan Anda, lalu temannya teman membagikan tulisan Anda, dan demikian seterusnya. Woww… bisa dibayangkan Ini merupakan penyebaran informasi yang sangat fantastik dan paling efektif. Seluruh orang di dunia bisa membaca tulisan yang Anda unggah atau tulisan akun lain yang Anda bagikan.

Bahayanya, sering kali berita-berita yang dibagikan justru mengandung konten yang negatif, seperti pornografi, tindakan penebar kebencian, hoax, dan informasi-informasi yang membuat pertentangan di antara nitizen. Ujung-ujungnya terjadi hal-hal yang tidak diharapkan namun dianggap ‘lumrah’ seperti saling menghina, menjelek-jelekan, fitnah berterbaran dimana-mana, bulliying, dan gosib untuk mempermalukan orang lain. Kalau berita-berita yang di-share bermanfaat, menambah wawasan, serta meningkatkan rasa persatuan dan kecintaan terhadap agama dan tanah air, tidak masalah untuk dibagikan. Malahan dapat menambah pahala karena menebar benih-benih kebaikan. Nah lho kalau sebaliknya, berita yang disebarkan itu Hoax dan fitnah, mengandung konten pornografi,  dan konten negatif lainnya bagaimana? justru malah menambah dosa kan?

Contohnya kasus yang baru aku ketahui di dunia facebook saat ini (Juli 2017) berasal dari kotaku sendiri, Jepara. Dua orang remaja (aku tidak ingin menyebut namanya) yang sedang melakukan perbuatan yang ‘tidak senonoh’ yang kebetulan tertangkap oleh kamera seseorang. Lalu seseorang tersebut mengunggah video tersebut ke facebook. Dalam hitungan detik, video tersebut tersebar dan menjadi viral. Semakin banyak nitizen yang men‘share’ video tersebut, ntah tujuannya mempermalukan kedua orang tersebut atau yang lain. Tidak hanya itu, beribu-ribu komen negatif, marah, dan hinaan langsung muncul silih berganti. Sampai-sampai nama pemilik akun pelaku dalam video tersebut dengan mudah dilacak. Dari akun tersebut bisa dilacak nama, alamat, sekolah, umur, dan lain-lain. Woww….Luar biasa sekali nitizen masa kini, bisa dibilang seperti ‘detektif andalan’. Kalau menurutku sih ini bisa menjadi ‘sanksi norma sosial’ yang tegas dan keras bagi kedua remaja tersebut, supaya sadar kalau perbuatan yang mereka lakukan itu salah dan tidak dibenarkan baik dari sudut pandang agama, sosial, dan hukum. Istilah bekennya mereka ‘tercyduk’ dan pantas menerima sanksi. Mungkin karena viralnya video tersebut, keluarga, tetangga, kerabat, teman-teman, guru akan tahu kesalahan mereka. Tambah lagi deh sanksinya. Paling tidak, kedua remaja tersebut akan jadi bahan perguncingan dan paling parah mungkin akan dikucilkan. Itu konsekuensi. Berani bertindak, ya harus menerima segala konsekuensinya.

Yang aku tidak habis pikir adalah aku heran, mengapa sebagian besar nitizen senang sekali meng ‘viral’ kan berita atau informasi yang mengandung konten negatif seperti kasus tersebut? Apalagi dengan menyertakan tanda hastag (#) pada kata, membuat berita itu mudah dicari dalam hitungan detik.  Benar, supaya kedua remaja tersebut dapat sanksi atas perbuatan mereka. Aku juga setuju akan hal itu. Namun, jika berita tersebut dibaca atau video tersebut tak sengaja ditonton oleh pemilik akun facebook yang masih anak-anak bagaimana? Karena kebanyakan anak-anak SD dan SMP zaman sekarang sudah memiliki akun facebook dan juga mereka memiliki rasa ingin tahu atau istilah bekennya ‘kepo’ yang tinggi sekali. Bisa kebayangkan bagaimana pengaruhnya? ‘sungguh berbahaya’, anak kecil disuguhi dengan tontonan seperti itu. Bahkan, setelah aku amati, ternyata sebagian besar yang men‘viral’kan berita tersebut adalah anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Astagfiruallah. Mungkin kebanyakan dari mereka menganggap hal ini adalah bahan lelucon dan hiburan. Namun, sangat disayangkan, karena usia anak sekolah sebaiknya belajar giat meningkatkan prestasi. Adapun internet difungsikan sebagai fasilitas untuk membuka jendela dunia, yah tentunya dalam rangka meningkatkan prestasi.

Jadi menurutku, jangan asal-asalan membagikan berita di facebook yah…think smart dulu deh, pikirkan dampak yang akan terjadi. Okay! Kalau beritanya menebar kebaikan, silahkan bagikan :D 

Rabu, 26 Juli 2017

Fenomena Anak sekolahan Zaman Sekarang

Aku menyaksikan dan mengamatinya sendiri bagaimana anak sekolahan zaman sekarang menunjukkan prilaku yang tidak bisa dibenarkan. Tidak disiplin dalam memakai seragam, berbicara atau ngobrol dengan teman saat pelajaran, memain-mainkan meja (dalam bahasa jawa ‘klotekan atau gendangan’), tidur, bermain HP, bahkan berbicara kasar, tidak sopan dan ‘saru’ pada guru. Tidak perlu ditanya, sudah berapa kali diingatkan. Namun, tetap saja, sulit untuk diubah. Hanya sebagian kecil saja yang benar-benar memperhatikan dan memang ingin tahu, lainnya asyik dengan dunia mereka sendiri. Dan, aku sangat mengapresiasi mereka yang bersungguh-sungguh dalam belajar. Awalnya aku berpikir, mungkin karena aku masih terlalu muda untuk mengajarinya atau mungkin karena waktu itu aku adalah guru baru. Jadi, wajar saja, jika mereka belum menerimaku dan menerima segala apa yang kuberikan untuk mereka. Namun, ternyata sama saja. Guru senior pun diperlakukan sama, kecuali guru yang notebenenya memang ‘killer’, tegas dan berkedudukan tinggi. Aku selalu memikirkan cara bagaimana bisa mengubah prilaku yang ‘tidak menghargai guru’. Nilai rendah yang ku berikan pada mereka pun tak membuat mereka jera, sama sekali tak mengubah prilakunya. Mereka sama sekali tidak peduli. Dinasehati, tak didengarkan. Di minta berdiri di depan kelas, tak ada yang bangun dari tempat duduknya. Di minta keluar kelas, malah senang. Aku tidak tahu apa yang mereka inginkan.  Haruskah aku memukuli satu-persatu siswa ku yang membangkang? Kalau itu aku lakukan, bisa-bisa aku didatangi oleh orang tua mereka dan kena marah tanpa penjelasan. Kalau di kota dan orang tuanya berada, mungkin aku sudah dilaporkan ke polisi dan harus berhadapan dengan UU No. 23 Tahun 2002, tentang Perlindungan Anak. Karena akhir-akhir ini banyak kasus dan menjadi trending topik dimana guru terkena hukum pidana karena memukuli siswa.

Entah kenapa aku merasa ada perbedaan yang sangat jauh antara anak sekolahan zaman dahulu dengan zaman sekarang, bagaikan bumi dan langit. Mungkin bukan hanya aku yang merasakan, namun beberapa pendidik dan pengamat pendidikan juga merasakan hal yang sama. Dinamika tingkah laku remaja sangat rentan dipengaruhi oleh lingkungan tempat tinggal dan juga kemajuan teknologi. Remaja lebih suka menghabiskan waktunya di dunia maya, seperti facebook, instagram, game online, dibandingkan belajar. Ini mungkin telah menjadi hobi dan kebutuhan. Bahayanya, seringkali media sosial ataupun internet menyajikan konten yang menyimpang, seperti pornografi, kekerasan, saling menghina (bullying), komentar atau menulis status dengan bahasa kasar dan lain-lain. Kita tidak pernah tahu, apakah mereka mampu menggunakan medsos dan internet dengan bijak atau tidak. Mungkin saja mereka mendapatkan sisi negatif dari medsos dan internet tanpa mereka sadari. Tentu hal ini akan mempengaruhi kehidupan sosial mereka di dunia nyata.

Tentu, aku tidak bisa membandingkan pola kehidupan sosial zaman dahulu dengan sekarang begitu saja. Pada zamanku dulu, medsos baru ‘lahir’, dan pengaruhnya tidak se ‘fanatik’ sekarang. Dulu belum ada smartphone. Punya handphone yang bisa dibuat internetan saja sudah senang dan kebanyakan dimiliki oleh orang-orang dari kerluarga yang berada. Handphone dimanfaatkan untuk hal-hal yang perlu. Tidak seperti zaman sekarang, baik miskin ataupun kaya, hampir semuanya sudah memiliki smartphone canggih yang bisa menjelajah keseluruh dunia. Tidak perlu ditanya dan diajari, mereka sudah akrab dan langsung mahir kalau urusan teknologi informasi.

Aku jadi kembali teringat, pada zaman aku sekolah dulu, dimana teman-temanku sangat berfokus dalam pelajaran, les sana sini, dan berusaha mendapatkan yang terbaik. Sekolah mereka dibiayai oleh orang tuanya dan itu tidak murah, tentunya mereka ingin menjadi kebanggaan keluarga dan tidak ingin mengecewakan keluarga, termasuk aku. Ini bukan beban. Namun, ini adalah kewajiban kita sebagai anak sekolah untuk belajar dan berprestasi. Kalau siswa melanggar aturan, siswa tidak keberatan menerima sanksi yang diberikan oleh guru. Ini namanya pertanggungjawaban. Dulu aku pernah tertidur di kelas, sampai-sampai aku tak bisa menyangga kepalaku, dan ku letakkan di meja. Beberapa saat kemudian, hempasan tangan guruku mendarat di kepalaku. Sakit sih, namun itu tidak seberapa, dibandingkan rasa maluku karena memang sudah diperingatkan berkali-kali pada pelajaran beliau untuk tidak tidur. Yah, itu bagian dari disiplin. Sebenarnya jika aku ngantuk, gampang saja, tinggal aku izin keluar, dan membasuh wajahku dengan air. Dengan begitu aku tak perlu menerima tamparan itu. Ketika ramai saat pelajaran, guru tak perlu berteriak-teriak menyuruh kami diam, cukup dengan memelototkan mata pada kami dan bicara seperlunya, kamipun langsung tak berkutik lagi. Tugas yang lupa tak dikerjakan menjadi masalah besar bagi kami, entah takut tidak dapat nilai atau khawatir jika disuruh mengerjakan di depan. Namun sekarang, suasananya telah berbeda. Siswa cenderung tidak peduli. Yah, hanya ‘sebagian kecil’ saja yang aware, yang lainnya sama sekali tidak peduli. Entah itu terjadi hanya pada sekolah tertentu saja atau yang lainnya juga.

Kenapa bisa seperti itu? Lalu, siapa yang bertanggung jawab atas prilaku remaja anak sekolahan masa kini? Menurutku ini adalah tanggung jawab kita bersama, baik orang tua, siswa itu sendiri, dan guru. Percuma saja kalau di sekolah guru berusaha mengubah prilaku siswa menjadi lebih baik, jika siswa tidak bisa menerima atau orang tua/keluarga di rumah tidak mendukung. Kesadaran siswa untuk berubah menjadi lebih baik juga penting. Orang tua/keluarga di rumah sebaiknya mengetahui bagaimana prilaku dan kehidupan sosial anak-anaknya, tidak perlu dimanja diberikan motor mewah, handphone mewah, dan lain-lain. 

Tidak bisa dipungkiri juga bahwa tidak sedikit siswa memang memanfaatkan perkembangan teknologi dengan baik dan bijak, sehingga dapat meningkatkan prestasinya di sekolah, kehidupan sosialnya juga baik, bahkan bisa meningkatkan kemampuan berkomunikasi, menganalisis, berpendapat (berargumen), dan juga mendapatkan informasi-informasi pengetahuan. Dan, aku sangat mengapresiasi mereka.

Senin, 17 Juli 2017

IPS dapat 4.00, senang atau sedih?


*maaf tulisan ini dibuat bukan bermaksud untuk menyombongkan diri atau 'alay'. Ini adalah tentang bagaimana kesanku untuk pertama kalinya mendapat IPS 4.00. Sekali lagi ini hanya tentang bagaimana perasaanku dan aku ingin berbagi pengalaman saja. Peace!!, hehehe :D

Screenshoot di atas adalah hasil studi (IPS) ku di semester 2 pascasarjana Biologi UGM 2016/2017. Yah, untuk pertama kalinya aku mendapatkan IPS 4.00. lantas apakah aku harus senang atau sedih? Mahasiswa mana yang tak senang mendapatkan IPS 4.00?

Di saat hari yang sama dengan keluarnya nilai IPSku, aku membaca salah satu tulisan dari seorang dosen yang mengajar di universitas yang ada di Jepara. Dari tulisan itu, aku menyimpulkan bahwa menurut beliau IP itu tidak penting, yang terpenting adalah bagaimana kita bisa lulus dari universitas kehidupan. Yah, kehidupan dunia kerja, karena menurutnya IP tidak menjamin kesuksesan seseorang.

Bahkan di dalam tulisannya, ia sangat mengapresiasi ujian yang bersifat open book karena dapat mengukur dapa berpikir kritis dan bisa mengetahui bagaimana cara kita menanggapi suatu fenomena. Yah aku setuju dengan hal ini. Tapi sayangnya selama ini, dosen-dosenku di UGM selalu menerapkan ujian yang sifatnya close book dan bahkan tidak jarang pertanyaan yang disodorkan juga memerlukan daya penalaran.

Setelah ku teruskan membaca tulisannya lagi, beliau seolah ‘memandang sebelah mata’ ujian yang sifatnya close book karena hanya mengukur kemampuan kognisi saja. Kalau aku memiliki pemikiran yang lain. Menurutku, ini tergantung pada tipe pertanyaannya, bukan persoalan close book atau open book. Menurutku, open book justru merepotkan mahsiswa karena sudah terlalu jelas, jawaban pasti tidak ada di buku. Ini seolah-seolah ‘memberikan angin segar’ bagi mahasiswa untuk tidak belajar. ‘Ah, ujiannya open book, belajar nanti aja’. “Ah, ujiannya open book, gampang, gak usah belajar, paling bisa dinalar’. Dalam benakku, iya kalau daya nalarnya waktu itu ‘Mak nyoss’, kalau tidak bagaimana bisa menjawab soal? Bisa-bisa untuk nulis 1 kalimat aja membutuhkan waktu 30 menit.

Justru aku lebih suka ujian yang sifatnya close book. Alasannya karena ini memaksaku untuk belajar dan membaca materi. Kalau menurutku hafalan itu perlu. Percuma kemampuan daya nalarnya tinggi, kalau tidak ingat dengan istilah atau kata kunci yang penting dalam menjawab pertanyaan atau soal. Saya bersyukur memiliki daya ingat yang cukup tinggi (longterm memory). Tapi sekali lagi, ini bukan persoalan kemampuan kognisi. Ini adalah tentang bagaimana ujian close book menstimulasi kita untuk belajar lebih ekstra. Karena jika kita tahu kata kucinya, bahkan 1 kalimat penting bisa dijabarkan menjadi 1 paragraf hanya dalam waktu 5 menit. Tidak perlu waktu yang lama dalam menganalisis soal. Ingat, waktu terus berjalan kawan!. Kalau terlalu lama berpikir, tentu waktunya akan habis bukan?

Beberapa orang senang dan mengapresiasi mahasiswa yang IPnya 4.00. Mereka memuji bahwa mahasiswa tersebut pintar, berprestasi, dan lain-lain. Namun faktanya, tak sedikit pula orang yang meng’underestimate’ bahwa mahasiswa yang IPnya 4 belum tentu sukses dalam pekerjaan. Mereka hanya tau teori saja, sedangkan praktiknya 0. Banyak dari mereka yang setelah lulus hanya jadi guru, atau mendapatkan pekerjaan yang tidak sesuai keahliannya, dan lain-lain. Mereka tidak pernah ikut organisasi kemahasiswaan, mereka tidak pernah ikut demo dan memikirkan kepemerintahan. Hey, I suggest you to stop thinking like that! Hidup itu pilihan, biar saja mereka menentukan apakah mereka akan ikut organisasi kemahasiswaan atau tidak, apakah mereka mau ikut demo atau membaca jurnal. Kalian tidak pernah tahu bagaimana cara mereka belajar dan bagaimana usaha mereka untuk belajar lebih ekstra dibandingkan mahasiswa yang IPnya dibawah 3. ini fair!. Bayangkan saja, disaat yang lain pergi untuk nonton bioskop di mall, mereka sibuk belajar karena akan UAS. Apakah tak layak, jika mereka yang belajar mendapat nilai A?. Demikian halnya juga yang aku alami. Nilai A yang ku dapatkan bukan semata-semata hasil dari nilai UTS dan UAS saja, tapi banyak tugas yang harus kuselesaikan dan kumpulkan, banyak jurnal yang harus ku baca dan dibuat ringkasan, banyak ppt yang aku buat dan ku presentasikan. Aku kembali teringat bahwa yang terpenting adalah ilmu yang didapat dan mampu diaplikasikan. Nilai A itu seolah merupakan bonus dan layak untuk didapatkan bagi mereka yang mau belajar. Aku juga setuju dengan pemikiran dosen tadi, bahwa tidak ada mahasiswa yang pintar, yang ada hanyalah mahasiswa yang tahu lebih dulu. Dan belajar serta membaca adalah salah satu cara untuk menjadi tahu lebih dulu. Lantas, jika belajar untuk tahu lebih dulu, bukan hal yang tidak mungkin untuk mendapatkan nilai A bukan? Bagiku nilai A itu adalah ‘semacam penyemangat’ untukku supaya aku mau berusaha belajar dan membaca. Mungkin kalian semua tidak sepemikiran denganku. Tidak mengapa. Tapi, yang jelas aku senang mendapatkan IPS 4.00. Ini adalah adalah hadiah dari Allah atas kerja kerasku selama ini. Aku selalu mensyukuri segala apa yang menjadi kekurangan dan kelebihan yang ada pada diriku. Tentu aku tidak akan membiarkan pemikiran yang underestimate terjadi padaku, karena parameter kesuksesan setiap orang berbeda-beda, pun tergantung bagaimana cara kita meraihnya dan aku selalu ingat, bahwa dibalik setiap kesuksesan pasti selalu ada kekuasan Allah. Aku percaya nasib dan rizki seseorang telah diatur oleh Allah SWT.


Jangan malu untuk bertanya



Pernahkah kamu menghadapi kebingungan? Tidak tau apa yang harus dilakukan? Ragu dalam mengambil keputusan? Menerka-nerka persoalan yang belum tentu dijamin kebenarannya?

Ya. Aku pernah mengalami hal demikian. Selama perjalanan hidupku, aku sering bahkan selalu dihadapkan persoalan-persoalan yang membuat otakku ‘nggrundel’ bak gumpalan benang ruwet. Tak tahan menampung benang yang semakin ruwet, aku mencoba menguraikan helaian demi helaian dengan cara bertanya pada seseorang. Seseorang yang aku anggap bisa menjawab semua daftar pertanyaan-pertanyaan yang ada di otakku. Ini mirip istilah ‘Kepo’, tapi kepo yang positif. Ini bukan persoalan mencari gosip, namun persoalan dalam mencari solusi dalam menyelesaikan masalah yang pelik.

Pernah suatu ketika saat aku kebingungan dalam penyusunan proposal skripsi, saat dimana aku tak tahu bagaimana seharusnya aku menghadapi dosen pembimbingku. Aku sadar tips dari orang yang berpengalaman itu penting. Aku tak tanggung-tanggung menurunkan urat maluku untuk bertanya pada kakak tingkat yang telah lulus dan dibimbing oleh dosen yang sama ataupun dosen lain. Hanya dengan bermodal ‘Assalamlualaikum’ dan memperkenalkan diri dengan bahasa yang sopan dalam  pesan singkat (SMS), mereka menanggapi semua pertanyaan ku dengan ramah dan detail. Bahkan tak jarang, mereka bersedia untuk bertemu dengan ku secara langsung dan berbagi pengalaman.

Kedua kalinya, saat aku kebingungan ketika akan mendaftar beasiswa studi lanjut S2 dari LPDP, saya tak tanggung-tanggung menepis rasa malu dan bertanya pada salah 2 orang yang tidak aku kenal sebelumnya. Seseorang yang aku tahu dari media sosial facebook, yang profilnya menunjukkan bahwa mereka alumni UNNES. Merasa bahwa aku dan mereka satu almamater, aku beranikan untuk menyapa mereka lewat chat facebook. Dengan pedenya aku perkenalkan diriku dan mengutarakan maksud dan tujuanku. Alhamdulillah mereka menanggapi semua pertanyaanku dengan ramah. Satu demi satu pertanyaan telah dijawab, dan aku akhiri dengan ucapan terimakasih.

Kini, aku dihadapkan dengan penelitian tesis yang benar-benar membuat aku merasa frustasi. Mungkin karena aku yang belum terbiasa. Ini kali pertama aku melakukan penelitian murni. Ya, studiku di S1 dengan background pendidikan biologi, namun kini di pascasarjana, aku mengambil jurusan biologi murni. Ini yang membuatku berpikir, belajar dan berkerja lebih ekstra dari biasanya. Aku belum cukup familiar dengan uji aktivitas enzim Superoxide Dismutase (SOD), uji Malondyaldehide, dan lain sebagainya. Aku juga tidak tahu dimana lokasi green house yang nantinya akan aku gunakan dalam menanam padi dan juga tidak tahu laboratorium yang mana yang akan ku gunakan untuk mengukur parameter penelitian yang aku tetapkan. Sungguh, aku merasa awam dan belum bepengalaman. Bak anak SMA yang baru lulus langsung mengambil S2. Kadang aku merasa paling bodoh dan tertinggal di antara teman-temanku. Namun, lagi-lagi aku kumpulkan keberanian untuk bertanya pada salah dua orang yang tidak aku kenal sebelumnya. Aku tahu bahwa penelitian mereka hampir mirip dengan ku. Aku cari nomor WA.nya. Yah, ketemu. Satu dari mereka aku dapatkan nomor WAnya dari seseorang yang juga tidak aku kenal sebelumnya. Sekali lagi, hanya bermodoal ‘Assalamualaikum’ dan memperkenalkan diri dengan bahasa yang sopan, mereka menanggapi pesanku dengan ramah dan menjawab satu demi satu pertanyaan yang aku tanyakan.

Alhamdulillah, aku selalu dikelilingi dengan orang-orang baik. Aku selalu berdoa semoga orang-orang baik ini dimudahkan segala urusannya, dilancarkan rizkinya dan diberi kesuksesan semasa hidupnya. Aku juga ingin berusaha menaladani sikap mereka, dan terbuka ketika ada seseorang yang membutuhkan pertolongan. Pesan yang dapat aku ambil dari semua ini adalah jangan malu untuk bertanya, kepolah yang positif, tentu dirimu akan lebih yakin dalam mengambil keputusan.


Rabu, 05 Juli 2017

Berlibur ke Pulau Eksotis, Pulau Panjang

Berlibur ke Pulau Eksotis, Pulau Panjang

Foto penulis di gapura pintu masuk Pulau Panjang, Jepara
(sumber: dokumen pribadi)

Siapa yang belum pernah ke Pulau Panjang? Bagi masyarakat Jepara akan dibilang tidak gaul, tidak up to date, kuper, dan lain-lain, jika belum pernah ke Pulau Panjang. Hal ini dikarenakan Pulau Panjang berada di kabupaten Jepara dan akhir-akhir ini menjadi salah satu destinasi wisata yang populer di Jepara. Sebenarnya saya sendiri yang saat ini berusia 24 tahun dan juga merupakan warga Jepara, baru menginjakkan kaki di Pulau Panjang setelah 19 tahun silam. Selama ini saya belum bisa menghilangkan trauma ‘mabok laut’ yang pernah ku alami ketika masih berumur 5 tahun. Ketika saya sudah dewasa pun, saat kondisi psikologis saya sudah stabil (tidak mabok laut lagi), saya terlalu menyibukkan diri belajar di kota lain (Semarang dan Yogyakarta) selama hampir 6 tahun, sehingga belum sempat berkunjung ke Pulau Panjang. Saat ini, saya sedang menjalani studi program pascasarjana jurusan Biologi di UGM Yogyakarta.
Minggu, 19 Maret 2017, tepatnya pukul 08.30 WIB, saya tiba di Pantai Tirto Samudra Bandengan, Jepara. Perlu waktu sekitar 45 menit untuk menempuh perjalanan dari rumah menuju Pantai Tirto Samudera Bandengan. Setelah itu, saya bergegas menuju dermaga penyeberangan ke Pulau Panjang. Saya bertemu dengan Bapak Sarman (58 tahun), yang bekerja sebagai pusat informasi penyebrangan ke Pulau Panjang dan bertanya kepadanya mengenai Pulau Panjang. “Perlu waktu sekitar 20 menit mbak untuk menyeberang ke Pulau Panjang”, Ujar Bapak Sarman. Lalu, saya segera turun ke perahu motor bermerek ‘Wisata Bahari’ untuk menyebrang. Biaya penyeberangan cukup murah, hanya dengan merogoh kocek Rp. 20.000,00 (tiket sudah termasuk PP), kita bisa menyaksikan dan menikmati Pulau Panjang yang eksotis.
Dermaga pantai Tirto Samudra bandengan, Jepara (sumber: dokumen pribadi)
Perahu motor ‘Wisata Bahari’ (sumber: dokumen pribadi)

Pukul 08.52 WIB, tampaknya jumlah penumpang yang menaiki perahu motor Wisata Bahari sudah mencukupi kuota. Tali perahu segera dilepas, mesin dihidupkan, perlahan-lahan perahu melaju ke tengah lautan. Ini pengalaman pertama saya setelah 19 tahun silam tidak menaiki perahu motor. Perasaan was-was sedikit muncul, namun perasaan was-was itu segera saya tepis karena melihat indahnya pemandangan di pantai dan juga kilauan hamparan air laut yang tampak mempesona. Waktu itu, gelombang air laut tidak begitu besar, sehingga perahu berlayar dengan tenang. Dari kejauhuan tampak Pulau Panjang yang begitu eksotis dan rimbun. Saya kagum atas ciptaan Allah dan bersyukur masih diberi kesempatan untuk menyaksikan keindahan alam ciptaanNya. Tidak lupa, saya mengabadikan momen itu dengan mengambil fotonya.
Penampakan Pulau Panjang dari kejauhan (sumber: dokumen pribadi)
Pukul 09. 19 WIB, perahu motor Wisata Bahari tiba di dermaga Pulau Panjang. Perahu menempuh jarak sekitar 4 km dari dermaga Pantai Tirto Samudra Bandengan. Saya segera naik dan berjalan ke arah pintu masuk. Perlu merogoh kocek lagi sebesar Rp. 5.000,00 untuk tiket masuk ke Pulau Panjang. Para wisatawan boleh menghabiskan waktu sepuas-puasnya, asalkan jika ingin kembali ke Pantai Tirto Samudera Bandengan, harus menaiki perahu yang bermerek Wisata Bahari lagi. Pasalnya, ada perahu dengan merek lain, yaitu Sapta Pesona, yang berlayar dari dermaga Pantai Kartini, Jepara.
Saya memulai ‘ekspedisi’ saya di Pulau Panjang. Suasana tampak masih sepi, belum begitu banyak wisatawan, mungkin karena masih terlalu pagi. Di pintu masuk, saya melihat papan pengumuman dari Pemerintah Kabupaten Jepara, untuk tidak melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. Saya mulai berjalan mengikuti jalan setapak. Terlihat beberapa penjual yang sedang mempersiapkan dagangannya untuk dijual. Pulau dengan luas kurang lebih 7 hektar ini, sebenarnya tidak berpenduduk. Para penjual merupakan pendatang dari kabupaten Jepara. Di Pulau Panjang terdapat makam Syeikh Abu Bakar Bin Yahya Ba’alawy, atau yang dikenal dengan sebutan Kyai Panjang. Hal ini menjadi daya tarik wisatawan muslim untuk melakukan wisata religi. Di dekat makam, berdiri bangunan masjid kecil yang cukup kokoh untuk tempat ibadah. Selain masjid dan makam, bangunan permanen yang ada disana adalah toilet, tempat duduk, dan beberapa gazebo di tepi pantai.

Papan pengumuman dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Jepara (sumber: dokumen pribadi)
Pedagang ikan asin di Pulau Panjang (sumber: dokumen pribadi)


Makam Syeikh Abu Bakar Bin Yahya Ba’alawy (Kyai Panjang) 
(sumber: dokumen pribadi)



Jalan setapak menuju hutan di Pulau Panjang (sumber: dokumen pribadi)
      Saya melanjutkan perjalanan lagi menuju hutan. Di Pulau ini terdapat hutan yang merupakan tempat perkembangbiakan alami satwa darat. Saya melihat pohon-pohon yang masih rimbun. Beberapa pohon yang dekat tepi pantai sudah terpasang papan identitas pohon (nama lokal, nama ilmiah, famili, dan asal), seperti pohon kelor, akasia, lamtoro, ketapang, cemara, dan lain-lain. Tumbuhan yang ada dihutan ini masih bervariasi, seperti halnya hutan hujan tropis, mulai dari tumbuhan tingkat rendah sampai tingkat tinggi.

Papan identitas pohon kelor (sumber: dokumen pribadi)


Papan informasi keanekaragaman hayatu biota laut di Pantai Pulau Panjang (sumber: dok pribadi)
Setelah berjalan mengelilingi hutan, saya kembali ke tepi pantai. Saya melihat papan yang memuat informasi mengenai keanekaragaman hayati di perairan kawasan taman pulau kecil, pulau panjang. Dari papan tersebut didapatkan informasi mengenai spesies-spesies yang tinggal di perairan kawasan Pulan Panjang, di antaranya: kelompok karang (Pectinia paeonia, Platygira lamellina, Platygira pini, Platygira verweyi, dan lain-lain), kelompok lamun (Cymodocea rotundata, Enhalus acoroides, Halodule pinifolia, dan lain-lain), dan kelompok ikan (Parachaetodon acellatus, Phemperis sp, Siganus linneatus, Amphiprion sp, dan lain-lain). Di tepi pantai, terdapat Camp area. Waktu itu, saya melihat 3 buah tenda yang berdiri menghadap pantai. Di sana juga ada tempat penyewaan perlengkapan diving yang dikelola oleh pihak swasta. Namun, perlu diingat dan dilaksanakan, bahwa ketika diving, harus hati-hati dan jangan sampai merusak karang.

Pesisir pantai Pulau Panjang, Jepara (sumber: dokumen pribadi)

Foto penulis di depan tulisan Taman Pulau Kecil Pulan Panjang
(sumber: dokumen pribadi)
Waktu menunjukkan pukul 10.50 WIB, saya beristirahat sejenak di dekat dermaga, menikmati sebungkus snack (makanan ringan) dan sebotol air mineral. Saya melihat berberapa perahu motor yang menuju ke sini. Tampaknya, jumlah wisatawan semakin banyak. Banyak rombongan keluarga yang berbondong-bondong untuk menghabiskan hari liburnya di Pulau Panjang. Sebelum kembali ke Pantai Tirto Samudera Bandengan, tidak lupa saya mengabadikan momen di Pulau Panjang, dengan berfoto di tulisan Taman Pulau Kecil Pulau Panjang yang dibangun oleh kerjasama Pemerintah Kabupaten Jepara dan beberaapa instansi. Waktu menunjukkan pukul 12.10. Saya kembali menyeberangi lautan menggunakan perahu motor Wisata Bahari menuju Pantai Tirto Samudera Bandengan. Saya kembali menikmati pemandangan laut. Kali ini, lalu lintas di laut tampak ramai. Selain perahu wisata, ada beberapa perahu nelayan yang sedang beroperasi. Sungguh pengalaman yang menyenangkan dan membuat saya selalu ingin kembali lagi di lain hari.