Jumat, 22 Juli 2016

Cerpen: Intropeksi diri, sebuah kesalahan yang akan teringat selalu di dalam pikiran dan menyadarkan kita untuk bersikap lebih baik lagi

Cerpen ini dibuat untuk merekam memori suatu tragedi yang pernah ‘melukai’ hati. Sebuah kesalahan yang berujung pada perasaan malu, rasa bersalah dan sebuah penyesalan yang teramat dalam. Sebuah kesalahan yang menyadarkan penulis untuk lebih berhati-hati dan berpikir ulang dalam bertindak dan berinteraksi dengan lingkungan. Tidak hanya sebagai mahasiswa Biologi ataupun guru biologi, tapi sebagai kholifah di bumi yang senantia menjaga lingkungan alam. Cerpen ini dibuat tidak dengan maksud menyudutkan orang lain, mencari-cari kesalahan orang lain, atau mempermalukan orang lain. Cerpen ini adalah sebuah intropeksi diri untuk kita semua. Cerpen ini disuguhkan dengan sedikit penambahan bunga-bunga yang fiktif untuk membuatnya lebih dramatis dan menghibur.

“Sebuah Misi Pertanggungjawaban”

‘Mira’ begitulah teman-temannya memanggilnya. Gadis mungil yang bermimpi ingin menjadi seorang guru. Mira terinspirasi dengan guru Biologinya, Ibu Arini, waktu Ia masih duduk di bangku SMA. Ibu Arini yang sangat pintar dan jelas dalam menjelaskan materi. Ibu Arini juga tampak telaten dan benar-benar mengusai ilmu yang diajarkannya. Ibu Arini sering mengajak siswa-siswanya ke laboratorium untuk praktikum. Tak hanya itu, Ibu Arini juga memperlihatkan sisi baik bak ibu peri yang baik hati, sabar dan bijaksana dalam mengelola kelasnya. Itulah salah satu alasan yang membuat Mira merasa terkagum dan tertarik ingin menjadi seperti Ibu Arini. Waktu SMA, Mira termasuk siswa yang cukup pintar dan rajin. Ia selalu mendapatkan peringkat pertama di kelasnya. Selain mata pelajaran Fisika dan Matematika, ia sangat menyukai pelajaran Biologi. Baginya, Biologi itu seperti mempelajari dirinya sendiri dan apa yang ada di lingkungan sekitarnya. Biologi itu lebih real dan aplikatif dalam kehidupan dibandingkan ilmu-ilmu eksak yang lainnya.  Manusia mengalami proses kehidupan  setiap hari, seperti bernapas, ekskresi, makan, belajar, dan bekerja. Semua sistem dalam tubuh saling berkerjasama untuk melaksanakan aktivitas sehari-hari. Tumbuhan bisa tumbuh, berbunga dan berbuah. Hewan bisa bergerak, berjalan atau berlari.  Itulah sebabnya, Mira sangat tertarik pada Biologi. Untuk mencapai impiannya itu, selepas lulus SMA, ia mengambil program studi pendidikan Biologi di salah satu Universitas Negeri di Semarang. Saat ini ia menjalani semester 5.

***
Kala itu, cuaca mendung sepanjang hari. Awan tampak lebih gelap dari biasanya. Rintik-rintik gerimis mulai berjatuhan membahasi dedaunan. Seburuk apapun cuacanya, rupanya tak mengurungkan niat dosennya untuk melaksanakan ujian mid semester mata kuliah Biologi Edutaintment. Seperti biasanya,  Mira mempersiapkan ujian mid semesternya beberapa jam sebelum jam ujian.  “Ah, cuca seperti ini enaknya tarik selimut, lalu tidur, hoambb..” (gumam Mira sambil membolak-balik catatan kuliahnya sembari menguap). Mata Mira mulai tak tertahan, pandangannya mulai kabur, sesekali ia menjatuhkan kepalanya kesamping, lalu ia kaget, dan berkata dengan optimis “ Aku tidak boleh ngantuk, aku harus dapat nilai A!”. Lalu ia melanjutkan membacanya. Sesekali ketika ia bosan, ia keluar dari kamar kos, lalu membaca catatannya sambil berjalan-jalan bolak-balik layaknya setrika berjalan dari sudut kamarnya ke pintu depan. Terkadang ia juga berhenti di depan kamar salah satu temanya yang kebetulan satu rombel dengannya, namanya Vivi. Lalu ia sharing apa yang dipelajarinya dengan temannya.

Langit masih mendung. Sore itu, kelas sudah dipenuhi oleh para mahasiswa,yang akan melaksanakan ujian, tak hanya dari rombel 1, namun juga mahasiswa dari rombel 2. Ceritanya, waktu itu dosen Mira menggabungkan 2 rombel dalam waktu ujian yang sama kala itu. Kelas tampak lebih padat dan sesak dari biasanya. Mirapun sudah berada di dalam kelas dan tampak was-was. Meskipun waktu tinggal 5 menit sebelum ujian dimulai, ia selalu membaca catatannya, tak seperti teman-temannya yang tampak lebih santai dan terbuai dalam canda dan tawa. Inilah keunikan dari Mira. Ia selalu ingin memberikan yang terbaik untuk apa yang sedang dihadapinya.  “Mir, sudah gak usah dibaca lagi, nanti lupa loh hahahaha...”, celuk Laras, salah satu teman Mira yang duduk di bangku sebelah Mira. “Tak apa, kalau gak dibaca, justru nanti malah lupa, ya gak?”, jawab Mira singkat.

Tiba waktunya, Ibu Sudarti, dosen makul Bioedu datang dengan membawa setumpuk lembar jawab yang kosong. Tak ada selembar soalpun yang dibawanya. Ya, dosen-dosen Mira jarang membagikan soal ketika Ujian Mid Semester. Itu salah satu prinsip paperless di kampus Mira. Mahasiswa sudah terbiasa dengan hal tersebut. Lembar jawab telah dibagikan. 10 soal ditampilkan di layar LCD. “Soal berjumlah 10, Waktu saudara 45 menit, kerjakan dengan mandiri dan sungguh-sungguh. Kerjakan soal yang saudara anggap paling mudah terlebih dahulu, baru kerjakan yang sulit. Sebelum mengerjakan, silahkan saudara berdoa di dalam hati”, kata Bu Sudarti. Serentak para mahasiswa menjawab, “Ya bu”.

“Bismillahirohmanirrahim”, gumam Mira lalu ia membaca soal satu persatu. Pandangan Mira lurus ke arah layar LCD seakan tak mau melewatkan satu katapun. Beberapa menit kemudian, Mira mulai menarik senyum di bibirnya. Ia tak menyangka soalnya sangat aplikatif. Biologi Edutaintment adalah mata kuliah yang mempelajari metode dan model pembelajaran yang menyenangkan dalam mengajar mapel Biologi, baik di kelas maupun di luar kelas. Tak heran, walaupun ujian midnya tertulis (essay), namun soalnya membutuhkan jawaban yang aplikatif, yaitu mengenai pengetahuan mahasiswa seputar pembelajaran dan cara mahasiswa sebagai seorang guru dalam melaksanakan pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa-siswanya nanti. Mahasiswa pasti dapat mengerjakannya dengan mudah dengan hanya mendengarkan selama di kelas. Mira tampak sangat percaya diri jika ia dapat mengerjakannya hanya dalam waktu 30 menit. Ia memutuskan untuk mengerjakan soal-soal tersebut secara urut dari nomor 1 hingga nomor 10.  30 menit belangsung dengan tenang dan khidmat. Rupanya prediksi Mira kurang tepat. Ia  menyisakan 2 pertanyaan setelah 30 menit. Kini ia menggunakan 15 menit sisanya untuk mengerjakan soal nomor 9 dan 10. “Ahh...belum selesai, aku harus lebih cepat lagi menulis jawabannya” gumam Mira dalam hati.

Tiba-tiba, seorang pria yang kira-kira berumur kepala tiga masuk ke kelas. Tampaknya para mahasiswa telah mengenal pria tersebut. Para mahasiswa memanggilnya pak Budi, salah satu laboran di laboratorium Biologi. “Selamat sore bu, maaf mengganggu sebentar”, kata pak Budi. “Iya Pak, ada apa?”, jawa Ibu Sudarti. Para Mahasiswa diminta untuk tetap melanjutkan ujiannya, begitu juga Mira, Ia harus menyelesaikan 2 soal yang tersisa. Pak Budi dan Ibu Sudarti tampak berbincang serius namun pelan. Lalu pak Budi menancapkan  flash disc ke laptop Ibu Sudarti. Di sisi lain, Mira masih tampak bersemangat menyelesaikan soal  nomor 9. “Akhirnya, kurang satu nomor lagi, waktu masih 10 menit” gumam Mira sambil menghela napas. Ketika Mira ingin move on dari nomor 9 dan berlanjut ke nomor 10, tiba-tiba bu Sudarti menghentikan aktivitas para mahasiswanya.  “Mohon perhatian sebentar!”kata Ibu Sudarti dengan nada yang keras. Mira pun kaget lalu ia mendongakkan kepalanya dan mengalihkan pandangannya ke arah layar LCD. Lalu Mira bertanya-tanya pada dirinya, “foto apa sih itu? kog ada namaku”. “Aku juga tidak tahu”, celuk Laras tiba-tiba. Ternyata tidak hanya nama Mira, yang muncul di layar LCD, nama-nama berikutnya juga muncul seperti Vivi, Burhan, Nadia, dan Monika. Mira tertegun dan masih bertanya-tanya foto apakah itu. “Nama-nama yang ada di layar, harap acungkan tangan” , perintah Ibu Sudarti. Satu persatu Ibu Sudarti memanggil nama-nama yang ada di layar. Mira pun ikut mengacungkan tangan dan masih tertegun. “Saya kecewa dengan kalian. Kalian itu calon guru, bisa-bisanya kalian melakukan hal yang tidak pantas saat kalian melaksanakan kuliah lapangan di hutan kemarin”, tegas Ibu Sudarti dengan menahan emosi dan suara yang agak lirih. Mira terus berpikir apa yang sebenarnya terjadi. Vivi yang sadar dan memberi tahu Mira bahwa tulisan nama-nama di layar adalah tulisan yang pernah mereka torehkan di batu saat kuliah kerja lapangan di hutan lindung. Mira dan teman-teman lain sebagai pelaku utama tragedi tersebut merasa malu dan tak bisa menyembunyikan rasa kesedihannya. Semua mahasiswa tertegun. Ibu Sudarti pun tak melanjutkan kemarahannya dan meminta semua mahasiswa untuk segera mengumpulkan lembar jawabnya jika sudah selesai. Mira yang masih shock dan menahan linangan air matanya tergesa-gesa menyelesaikan soal nomor 10. Lalu akhirnya ujian berakhir dan semua siswa mengumpulkan lembar jawabnya.

***
Masih dalam suasana yang diliputi kecemasan, Mira dan teman-temannya berkumpul di luar kelas dekat dengan kantor jurusan merenungi kesalahan mereka. Mereka tidak menyangka kalau apa yang mereka lakukan di hutan adalah perbuatan yang melanggar, tidak arif dan merusak lingkungan. Kelihatannya memang sepele, tetapi itu bukanlah perbuatan yang mulia. Mereka masih memikirkan kata-kata yang diucapkan Ibu Sudarti di kelas. "Calon guru macam apa kita ini" kata Mira. Bagi Mira, guru itu adalah sebuah panutan untuk siswa. Jika prilaku guru tidak baik, bukan hal yang tidak mungkin jika siswa meniru dan melakukan hal yang tidak baik pula. Burhan tampak lebih tenang, tidak seperti teman-teman wanitanya yang tampak cemas dan takut. Mungkin karena Burhan adalah laki-laki sehingga mentalnya sekuat baja. Jika diingat-ingat lagi dan ditelusuri kejadian di hutan kemarin, sebenarnya Burhanlah yang mengawali tragedi ini.  

***
Minggu lalu saat kkl mata kuliah ekologi di hutan lindung sedang berlangsung, suara aliran deras sungai terdengar sangat jelas ditambah kicauan burung-burung yang terdengar nyaring di telinga. Pohon-pohon yang masih rimbun membuat cuaca tampak sejuk dan bersahabat. Kebetulan waktu itu, Mira dan Vivi satu kelompok.  Mereka berjalan menelusuri jalan setapak di hutan sambil mengamati tanaman herba lantai bawah ternaung di hutan untuk keperluan analisis nilai penting individu spesies herba di hutan tersebut. Rasa capek pun tak meruntuhkan semangat mereka untuk terus bekerja menyelesaikan tugas tersebut. Setelah pengamatan herba selesai dilanjutkan dengan pengamatan pohon untuk keperluan penghintungan index densitas pohon di hutan tersebut. Mira dan Vivi menunjukkan kerjasama yang bagus dalam satu tim. Saat pengamatan selesai, mereka kembali ke tempat penginapan menulusuri jalan setapak yang ia lewati sebelumnya. Waktu itu hampir semua teman-temannya sudah kembali ke penginapan. “Vivi, kog hutannya sepi ya, sepertinya kita harus cepat-cepat meninggalkan hutan ini”, kata Mira. “Iya Mir, ayo kita jalan”, jawab Vivi. Di tengan perjalanan, mereka memutuskan berhenti karena lelah dan duduk di atas batu seraya untuk beristirahat sejenak. Tak sengaja Mira melihat nama Burhan tertulis di batu yang ia duduki. “Vivi, lihat deh, ada nama Burhan, ayo kita tulis nama kita disini, buat kenang-kenangan”pinta Mira dengan polosnya. “Hei, kelihatannya menarik, ayo Mir”, jawab Vivi. Mereka berdua mengeluarkan sepidol hitam merek ‘snowman’, lalu perlahan-lahan menggoreskan nama mereka, bak membuat ‘prasasti’ di batu. Dengan perasaan tanpa dosa, mereka melanjutkan perjalanan pulang. Rupanya, masih ada Nadia dan Monika yang masih di dalam hutan. Mereka melakukan hal yang sama setelah melihat ‘prasasti” yang Mira, Vivi, dan Burhan buat sebelumya.

Tidak ada gunanya mencari-cari siapa yang menjadi biang keladi dari masalah ini. Semua mahasiswa yang telah menuliskan namanya telah bersalah. Mereka melakukannya tanpa berpikir panjang. Mereka masih labil dan belum memahami bagaimana cara beretika yang baik. Sore menjelang maghrib, mereka berpikir bagaimana mencari solusi masalah ini. Permohonan maaf dan pengakuan kesalahan adalah satu-satunya tindakan yang harus mereka lakukan. Untungnya salah satu teman mereka, yang bernama Warda simpati pada mereka dan ikut memikirkan jalan keluarnya. Waktu itu mental mereka seperti mental chicken. Mereka takut menghadap Pak Budi maupun Bu Sudarti. Lalu Warda menawarkan diri untuk menjadi mediator antara para mahasiswa dan dosen serta pak Budi. Karena sudah terlalu sore, mereka pun pulang ke kos masing-masing.

***
Malam harinya, suasana sedih dan rasa penyesalan yang amat teramat dalam masih menyelimuti Mira. Tak henti-hentinya Mira meneteskan air matanya. Ia menceritakan masalahnya pada adiknya, supaya beban dan perasaan bersalah yang ia panggul sedikit berkurang. Biasanya jika Mira mempunyai masalah, ia menceritakan kepada kekasihnya, namun ia baru saja memutuskan hubungannya sejak sekitar 5 bulan yang lalu. Di tengah kepenatan yang ada di pikirannya ia terus menyalahkan dirinya. ‘Kenapa hanya dengan menuliskan di batu, Ibu Suharti sampai semarah itu? apa aku ini bukan calon guru yang baik?’ gumam Mira dalam hati. Tiba-tiba, Mira mendapatkan SMS dari salah satu temanya yang memintanya untuk membuka facebook dan melihat beranda pak Budi. Waktu itu, Mira tidak berteman di facebook dengan Pak Budi. Beberapa detik kemudian, mata Mira mulai  tak kuasa menahan linangan air matanya sehingga air matanya mulai menetes di atas layar smartphone canggihnya. Mira tampak shock membaca status Pak Budi di facebook. Rupanya pak Budi mengupload 'foto-foto tragedi di hutan' itu dan memberikan kritikan negatif terhadap para mahasiswa tersebut. Pak Budi mengancam melaporkan Mira dan teman-temannya ke dosen Ekologi, dan meminta dosennya agar mempertimbangkan nilai akhir mereka pada makul Ekologi. “Apa itu artinya aku akan dapat nilai E?” gumam Mira dalam hati yang ‘perih’ bak ditusuk jarum. Pak budi adalah salah satu anggota pemerhati lingkungan. Tak heran kalau ia begitu sangat marah, jika melihat lingkungan yang asri telak dirusak. Terlebih lagi, pelakunya adalah calon guru Biologi yang seharusnya mengajarkan siswa-siswanya kelak untuk selalu menjaga lingkungan. Banyak komentar negatif dari para pemilik akun facebook teman-teman Pak Budi. Para mahasiswa benar-benar telah menerima sanksi berupa celaan, hinaan dan dipermalukan di media publik.

Di tengah kesedihannya, Mira tak melupakan tugas makul yang lain. Malam itu, ia harus menengok tanaman-tanaman jagungnya di lantai atap. Biasanya anak-anak kos menggunakan tempat itu untuk menjemur jemuran. Di malam yang begitu dingin dan sepi, Mira meluapkan segala emosinya dan menangis sepanjang malam. Di sisi yang lain, Vivi pun sudah membaca status pak Budi di facebook. Ia pergi ke lantai atap menyusul Mira. Mereka berdua menangis sepanjang malam bak seperti orang yang mengalami putus cinta. “Mira, aku takut, aku takut, aku takut, calon guru macam apa kita ini” kata Vivi sambil menahan isak tangis. “Vivi, kenapa ya di facebook, komentarnya negatif dan mempermalukan kita semua, padahal kita hanya menulis nama di batu. Aku dengar ada salah satu teman di rombel lain yang mencabut anggrek hutan, bukan kah itu juga merusak lingkungan? kenapa hanya kita yang dicela?” tanya Mira sambil menahan isak tangis. “Entah aku tidak tahu Mir, yang jelas, kita harus minta maaf, mengakui kesalahan dan berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi. Kita berjanji akan menjaga kearifan lingkungan” jawab Vivi.  Permohonan maaf dan mengakui kesalahan itulah yang penting bukan mencari kesalahan orang lain. Mereka berdua larut dalam kesedihan.

***

Esok harinya, masih diselimuti rasa malu, Mira melangkahkan kaki ke laboratorium menuju kelas. Hari itu Mira ada kelas di lab. Sama halnya dengan teman-teman Mira yang lain yang merasa tertekan. Akhirnya dengan bantuan Warda, mereka meminta maaf kepada pak Budi. Warda berhasil bernegoisasi dengan pak Budi. Pak Budi akan memberikan pengampunan untuk mereka dengan syarat, mereka harus kembali ke hutan dan menghapus ‘prasasti’ itu dengan melampirkan bukti foto sebelum, sedang berlangsung, dan sesudah proses pembersihan serta harus ada salah satu dari aktivis lingkungan yang menemani mereka. Warda bersedia menemani mereka dalam misi penghapusan tulisan tersebut. Mira dan teman-temannya sedikit lega. Lalu ia memikirkan cara bagaimana menghapus spidol pada batu. Ia men-search di google. Salah satu blog, mengatakan bahwa spidol dapat dihapus menggunakan bahan kimia paint remover. Tanpa pikir panjang, sore harinya ia bersama vivi membeli paint remover di salah satu toko bangunan terdekat.

***
Esok harinya, Mira, Vivi, Nadia yang ditemani teman laki-lakinya, dan juga Wardha melaksanakan misi penghapusan tulisan di batu hutan lindung. Lokasi hutan dari kampus cukup jauh sehingga mereka menggunakan motor untuk mencapai lokasi.  Karena keterbatasan motor, maka Monika tidak bisa ikut. Begitu juga dengan Burhan tidak bisa ikut karena suatu hal. Sekitar 30 menit, akhirnya mereka sampai di lokasi. Hujan gerimis tak menghentikan langkah mereka untuk mempertanggungjawabkan kesalahan yang mereka perbuat. Waktu itu sampai disana bertepatan dengan sholat dzuhur. Mereka sholat terlebih dahulu di sebuah musholla kecil sebelum melakukan misi tersebut. Tak lupa Warda meminta izin ke ketua dukuh setempat.

Mira dan teman-temannya memulai perjalanan melawati jalan setapak sembari mengingat-ingat lokasi batu tersebut. Ketika melawati persawahan, Mira melihat ikan yang sedang terkapar, seraya akan mati. Dengan cepat ia mengambil ikan tersebut dan memasukkannya dalam genangan air sawah. Lalu ikan tersebut akhirnya bisa berenang. Sejak saat itu, Mira berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu peduli dan menjaga kearifan lingkungan. Akhirnya Mira dan teman-temannya menemukan lokasi batu yang membuatnya harus terlibat dalam kasus. Mereka semua mengeluarkan barang-barang yang digunakan untuk menghapus tulisan tersebut, seperti paint remove, sikat kamar mandi, dan air yang diambilnya dari sungai. Mereka berpikir ulang untuk menggunakan paint remover. “Jangan menggunakan paint remover”, kata Warda. “Paint remover adalah bahan kimia. Jika digunakan sama saja mencemari lingkungan lagi”, tambahnya. “Oiya ya..terus bagaimana cara menghapusnya?”tanya Mira. Nadia mecoba menyiram batu tersebut kemudian menyikatnya dengan sikat kamar mandi namun tak berhasil. Spidol yang mereka gunakan bersifat permanent, yang sulit untuk dihapus. Mereka terus memikirkan caranya. Akhirnya, mereka menyepakati langkah penghapusan tulisan dengan cara pengkikiran. Untungnya, Mira membawa pisau kecil (pemes) dalam kotak pensilnya. Mereka memulai mengikir tulisan tersebut sidikit demi sedikit. Untungnya tulisan itu tidak telalu besar. Kalau diestimasi, kira-kira huruf-hurufnya seukuran 12 font size times new roman di Microsof Word. Setelah itu, ia mengguyur dan menyikatnya dengan sekuat tenaga agar permukaan tampak rata dan tulisan itu tak terbaca, walaupun sedikit membekas. Namun, ini lebih baik dari pada menggunakan paint remover. Tak lupa Warda akan tanggung jawabnya, ia mengambil foto-foto dalam misi penghapusan tulisan.

***
            Esok harinya Warda menyerahkan bukti foto ke pak Budi. Itu artinya pak Budi akan segera memaafkan kesalahan mereka. Kini beban dan perasaan bersalah yang menyelimuti Mira dan teman-temannya berkurang. Mereka lega karena masalah ini telah selesai. Malam harinya pak Budi mengupload bukti foto-foto misi penghapusan tulisan di batu dan menulis status bahwa para mahasiswa tersebut sudah menerima sanksi dan melaksanakan tanggung jawabnya atas kesalahan yang mereka lakukan. Mira dan teman-temannya benar-benar lega. Mereka semua kembali dalam aura yang positif dalam menatap masa depan.

---The end---

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar