Cerpen ini
dibuat untuk merekam memori suatu tragedi yang pernah ‘melukai’ hati. Sebuah
kesalahan yang berujung pada perasaan malu, rasa bersalah dan sebuah penyesalan
yang teramat dalam. Sebuah kesalahan yang menyadarkan penulis untuk lebih
berhati-hati dan berpikir ulang dalam bertindak dan berinteraksi dengan
lingkungan. Tidak hanya sebagai mahasiswa Biologi ataupun guru biologi, tapi
sebagai kholifah di bumi yang senantia menjaga lingkungan alam. Cerpen ini
dibuat tidak dengan maksud menyudutkan orang lain, mencari-cari kesalahan orang
lain, atau mempermalukan orang lain. Cerpen ini adalah sebuah intropeksi diri
untuk kita semua. Cerpen ini disuguhkan dengan sedikit penambahan bunga-bunga
yang fiktif untuk membuatnya lebih dramatis dan menghibur.
“Sebuah Misi Pertanggungjawaban”
‘Mira’ begitulah teman-temannya
memanggilnya. Gadis mungil yang bermimpi ingin menjadi seorang guru. Mira
terinspirasi dengan guru Biologinya, Ibu Arini, waktu Ia masih duduk di bangku
SMA. Ibu Arini yang sangat pintar dan jelas dalam menjelaskan materi. Ibu Arini
juga tampak telaten dan benar-benar mengusai ilmu yang diajarkannya. Ibu Arini
sering mengajak siswa-siswanya ke laboratorium untuk praktikum. Tak hanya itu,
Ibu Arini juga memperlihatkan sisi baik bak ibu peri yang baik hati, sabar dan bijaksana
dalam mengelola kelasnya. Itulah salah satu alasan yang membuat Mira merasa terkagum dan tertarik
ingin menjadi seperti Ibu Arini. Waktu SMA, Mira termasuk siswa yang cukup
pintar dan rajin. Ia selalu mendapatkan peringkat pertama di kelasnya. Selain
mata pelajaran Fisika dan Matematika, ia sangat menyukai pelajaran Biologi.
Baginya, Biologi itu seperti mempelajari dirinya sendiri dan apa yang ada di
lingkungan sekitarnya. Biologi itu lebih real
dan aplikatif dalam kehidupan dibandingkan ilmu-ilmu eksak yang lainnya. Manusia mengalami proses kehidupan setiap hari, seperti bernapas, ekskresi,
makan, belajar, dan bekerja. Semua sistem dalam tubuh saling berkerjasama untuk
melaksanakan aktivitas sehari-hari. Tumbuhan bisa tumbuh, berbunga dan berbuah.
Hewan bisa bergerak, berjalan atau berlari. Itulah sebabnya, Mira sangat tertarik pada
Biologi. Untuk mencapai impiannya itu, selepas lulus SMA, ia mengambil program
studi pendidikan Biologi di salah satu Universitas Negeri di Semarang. Saat ini
ia menjalani semester 5.
***
Kala itu, cuaca mendung sepanjang
hari. Awan tampak lebih gelap dari biasanya. Rintik-rintik gerimis mulai
berjatuhan membahasi dedaunan. Seburuk apapun cuacanya, rupanya tak mengurungkan niat
dosennya untuk melaksanakan ujian mid semester mata kuliah Biologi Edutaintment.
Seperti biasanya, Mira mempersiapkan
ujian mid semesternya beberapa jam sebelum jam ujian. “Ah, cuca seperti ini enaknya tarik selimut,
lalu tidur, hoambb..” (gumam Mira sambil membolak-balik catatan kuliahnya
sembari menguap). Mata Mira mulai tak tertahan, pandangannya mulai kabur,
sesekali ia menjatuhkan kepalanya kesamping, lalu ia kaget, dan berkata dengan optimis “ Aku
tidak boleh ngantuk, aku harus dapat nilai A!”. Lalu ia melanjutkan membacanya.
Sesekali ketika ia bosan, ia keluar dari kamar kos, lalu membaca catatannya
sambil berjalan-jalan bolak-balik layaknya setrika berjalan dari sudut kamarnya ke pintu
depan. Terkadang ia juga berhenti di depan kamar salah satu temanya yang
kebetulan satu rombel dengannya, namanya Vivi. Lalu ia sharing apa yang dipelajarinya dengan temannya.
Langit masih mendung. Sore itu, kelas
sudah dipenuhi oleh para mahasiswa,yang akan melaksanakan ujian, tak hanya dari
rombel 1, namun juga mahasiswa dari rombel 2. Ceritanya, waktu itu dosen Mira
menggabungkan 2 rombel dalam waktu ujian yang sama kala itu. Kelas tampak lebih
padat dan sesak dari biasanya. Mirapun sudah berada di dalam kelas dan tampak
was-was. Meskipun waktu tinggal 5 menit sebelum ujian dimulai, ia selalu
membaca catatannya, tak seperti teman-temannya yang tampak lebih santai dan
terbuai dalam canda dan tawa. Inilah keunikan dari Mira. Ia selalu ingin
memberikan yang terbaik untuk apa yang sedang dihadapinya. “Mir, sudah gak usah dibaca lagi, nanti lupa
loh hahahaha...”, celuk Laras, salah satu teman Mira yang duduk di bangku
sebelah Mira. “Tak apa, kalau gak dibaca, justru nanti malah lupa, ya gak?”,
jawab Mira singkat.
Tiba waktunya, Ibu Sudarti, dosen
makul Bioedu datang dengan membawa setumpuk lembar jawab yang kosong. Tak ada
selembar soalpun yang dibawanya. Ya, dosen-dosen Mira jarang membagikan soal
ketika Ujian Mid Semester. Itu salah satu prinsip paperless di kampus Mira. Mahasiswa sudah terbiasa dengan hal
tersebut. Lembar jawab telah dibagikan. 10 soal ditampilkan di layar LCD. “Soal
berjumlah 10, Waktu saudara 45 menit, kerjakan dengan mandiri dan
sungguh-sungguh. Kerjakan soal yang saudara anggap paling mudah terlebih
dahulu, baru kerjakan yang sulit. Sebelum mengerjakan, silahkan saudara berdoa
di dalam hati”, kata Bu Sudarti. Serentak para mahasiswa menjawab, “Ya bu”.
“Bismillahirohmanirrahim”, gumam Mira
lalu ia membaca soal satu persatu. Pandangan Mira lurus ke arah layar LCD seakan
tak mau melewatkan satu katapun. Beberapa menit kemudian, Mira mulai menarik
senyum di bibirnya. Ia tak menyangka soalnya sangat aplikatif. Biologi
Edutaintment adalah mata kuliah yang mempelajari metode dan model pembelajaran
yang menyenangkan dalam mengajar mapel Biologi, baik di kelas maupun di luar
kelas. Tak heran, walaupun ujian midnya tertulis (essay), namun soalnya
membutuhkan jawaban yang aplikatif, yaitu mengenai pengetahuan mahasiswa seputar
pembelajaran dan cara mahasiswa sebagai seorang guru dalam melaksanakan
pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa-siswanya nanti. Mahasiswa pasti dapat
mengerjakannya dengan mudah dengan hanya mendengarkan selama di kelas. Mira tampak
sangat percaya diri jika ia dapat mengerjakannya hanya dalam waktu 30 menit. Ia
memutuskan untuk mengerjakan soal-soal tersebut secara urut dari nomor 1 hingga
nomor 10. 30 menit belangsung dengan
tenang dan khidmat. Rupanya prediksi Mira kurang tepat. Ia menyisakan 2 pertanyaan setelah 30 menit.
Kini ia menggunakan 15 menit sisanya untuk mengerjakan soal nomor 9 dan 10.
“Ahh...belum selesai, aku harus lebih cepat lagi menulis jawabannya” gumam Mira
dalam hati.
Tiba-tiba, seorang pria yang
kira-kira berumur kepala tiga masuk ke kelas. Tampaknya para mahasiswa telah mengenal
pria tersebut. Para mahasiswa memanggilnya pak Budi, salah satu laboran di
laboratorium Biologi. “Selamat sore bu, maaf mengganggu sebentar”, kata pak
Budi. “Iya Pak, ada apa?”, jawa Ibu Sudarti. Para Mahasiswa diminta untuk tetap
melanjutkan ujiannya, begitu juga Mira, Ia harus menyelesaikan 2 soal yang
tersisa. Pak Budi dan Ibu Sudarti tampak berbincang serius namun pelan. Lalu pak Budi
menancapkan flash disc ke laptop Ibu Sudarti. Di sisi lain, Mira masih tampak
bersemangat menyelesaikan soal nomor 9.
“Akhirnya, kurang satu nomor lagi, waktu masih 10 menit” gumam Mira sambil
menghela napas. Ketika Mira ingin move on
dari nomor 9 dan berlanjut ke nomor 10, tiba-tiba bu Sudarti menghentikan
aktivitas para mahasiswanya. “Mohon
perhatian sebentar!”kata Ibu Sudarti dengan nada yang keras. Mira pun kaget
lalu ia mendongakkan kepalanya dan mengalihkan pandangannya ke arah layar LCD. Lalu Mira bertanya-tanya pada dirinya, “foto apa sih itu? kog ada namaku”. “Aku juga tidak tahu”, celuk Laras tiba-tiba. Ternyata tidak hanya nama Mira, yang muncul di layar LCD, nama-nama
berikutnya juga muncul seperti Vivi, Burhan, Nadia, dan Monika. Mira tertegun
dan masih bertanya-tanya foto apakah itu. “Nama-nama yang ada di layar, harap
acungkan tangan” , perintah Ibu Sudarti. Satu persatu Ibu Sudarti memanggil
nama-nama yang ada di layar. Mira pun ikut mengacungkan tangan dan masih
tertegun. “Saya kecewa dengan kalian. Kalian
itu calon guru, bisa-bisanya kalian melakukan hal yang tidak pantas saat kalian
melaksanakan kuliah lapangan di hutan kemarin”, tegas Ibu Sudarti dengan
menahan emosi dan suara yang agak lirih. Mira terus berpikir apa yang
sebenarnya terjadi. Vivi yang sadar dan memberi tahu Mira bahwa tulisan
nama-nama di layar adalah tulisan yang pernah mereka torehkan di batu saat
kuliah kerja lapangan di hutan lindung. Mira dan teman-teman lain sebagai pelaku
utama tragedi tersebut merasa malu dan tak bisa menyembunyikan rasa
kesedihannya. Semua mahasiswa tertegun. Ibu Sudarti pun tak melanjutkan
kemarahannya dan meminta semua mahasiswa untuk segera mengumpulkan lembar
jawabnya jika sudah selesai. Mira yang masih shock dan menahan linangan air matanya tergesa-gesa menyelesaikan
soal nomor 10. Lalu akhirnya ujian berakhir dan semua siswa mengumpulkan lembar
jawabnya.
***
Masih dalam suasana yang diliputi
kecemasan, Mira dan teman-temannya berkumpul di luar kelas dekat dengan kantor
jurusan merenungi kesalahan mereka. Mereka tidak menyangka kalau apa yang mereka
lakukan di hutan adalah perbuatan yang melanggar, tidak arif dan merusak
lingkungan. Kelihatannya memang sepele, tetapi itu bukanlah perbuatan yang
mulia. Mereka masih memikirkan kata-kata yang diucapkan Ibu Sudarti di kelas. "Calon guru macam apa kita ini" kata Mira. Bagi Mira, guru itu adalah sebuah panutan untuk siswa. Jika prilaku guru tidak baik, bukan hal yang tidak mungkin jika siswa meniru dan melakukan hal yang tidak baik pula. Burhan tampak lebih tenang, tidak seperti teman-teman wanitanya yang tampak
cemas dan takut. Mungkin karena Burhan adalah laki-laki sehingga mentalnya
sekuat baja. Jika diingat-ingat lagi dan ditelusuri kejadian di hutan kemarin,
sebenarnya Burhanlah yang mengawali tragedi ini.
***
Minggu lalu saat kkl mata kuliah
ekologi di hutan lindung sedang berlangsung, suara aliran deras sungai terdengar sangat jelas ditambah kicauan
burung-burung yang terdengar nyaring di telinga. Pohon-pohon yang masih rimbun
membuat cuaca tampak sejuk dan bersahabat. Kebetulan waktu itu, Mira dan Vivi
satu kelompok. Mereka berjalan
menelusuri jalan setapak di hutan sambil mengamati tanaman herba lantai bawah ternaung di
hutan untuk keperluan analisis nilai penting individu spesies herba di
hutan tersebut. Rasa capek pun tak meruntuhkan semangat mereka untuk terus
bekerja menyelesaikan tugas tersebut. Setelah pengamatan herba selesai
dilanjutkan dengan pengamatan pohon untuk keperluan penghintungan index
densitas pohon di hutan tersebut. Mira dan Vivi menunjukkan kerjasama yang
bagus dalam satu tim. Saat pengamatan selesai, mereka kembali ke tempat
penginapan menulusuri jalan setapak yang ia lewati sebelumnya. Waktu itu hampir semua
teman-temannya sudah kembali ke penginapan. “Vivi, kog hutannya sepi ya,
sepertinya kita harus cepat-cepat meninggalkan hutan ini”, kata Mira. “Iya Mir,
ayo kita jalan”, jawab Vivi. Di tengan perjalanan, mereka memutuskan berhenti
karena lelah dan duduk di atas batu seraya untuk beristirahat sejenak. Tak sengaja
Mira melihat nama Burhan tertulis di batu yang ia duduki. “Vivi, lihat deh, ada
nama Burhan, ayo kita tulis nama kita disini, buat kenang-kenangan”pinta Mira
dengan polosnya. “Hei, kelihatannya menarik, ayo Mir”, jawab Vivi. Mereka
berdua mengeluarkan sepidol hitam merek ‘snowman’,
lalu perlahan-lahan menggoreskan nama mereka, bak membuat ‘prasasti’ di batu. Dengan
perasaan tanpa dosa, mereka melanjutkan perjalanan pulang. Rupanya, masih ada
Nadia dan Monika yang masih di dalam hutan. Mereka melakukan hal yang sama
setelah melihat ‘prasasti” yang Mira, Vivi, dan Burhan buat sebelumya.
Tidak ada gunanya mencari-cari siapa
yang menjadi biang keladi dari masalah ini. Semua mahasiswa yang telah
menuliskan namanya telah bersalah. Mereka melakukannya tanpa berpikir panjang. Mereka
masih labil dan belum memahami bagaimana cara beretika yang baik. Sore
menjelang maghrib, mereka berpikir bagaimana mencari solusi masalah ini.
Permohonan maaf dan pengakuan kesalahan adalah satu-satunya tindakan yang harus mereka lakukan. Untungnya salah satu teman mereka, yang
bernama Warda simpati pada mereka dan ikut memikirkan jalan keluarnya. Waktu itu
mental mereka seperti mental chicken.
Mereka takut menghadap Pak Budi maupun Bu Sudarti. Lalu Warda menawarkan
diri untuk menjadi mediator antara para mahasiswa dan dosen serta pak Budi. Karena sudah terlalu sore, mereka pun pulang ke kos masing-masing.
***
Malam harinya, suasana sedih dan rasa
penyesalan yang amat teramat dalam masih menyelimuti Mira. Tak henti-hentinya
Mira meneteskan air matanya. Ia menceritakan masalahnya pada adiknya, supaya
beban dan perasaan bersalah yang ia panggul sedikit berkurang. Biasanya jika
Mira mempunyai masalah, ia menceritakan kepada kekasihnya, namun ia baru saja
memutuskan hubungannya sejak sekitar 5 bulan yang lalu. Di tengah kepenatan yang
ada di pikirannya ia terus menyalahkan dirinya. ‘Kenapa hanya dengan menuliskan
di batu, Ibu Suharti sampai semarah itu? apa aku ini bukan calon guru yang baik?’ gumam Mira dalam hati. Tiba-tiba, Mira
mendapatkan SMS dari salah satu temanya yang memintanya untuk membuka facebook dan melihat beranda pak Budi.
Waktu itu, Mira tidak berteman di facebook
dengan Pak Budi. Beberapa detik kemudian, mata Mira mulai tak kuasa menahan linangan air matanya sehingga air matanya mulai menetes di atas layar smartphone canggihnya.
Mira tampak shock membaca status Pak
Budi di facebook. Rupanya pak Budi
mengupload 'foto-foto tragedi di hutan' itu dan memberikan kritikan negatif terhadap para
mahasiswa tersebut. Pak Budi mengancam melaporkan Mira dan teman-temannya ke
dosen Ekologi, dan meminta dosennya agar mempertimbangkan nilai akhir mereka
pada makul Ekologi. “Apa itu artinya aku akan dapat nilai E?” gumam Mira dalam
hati yang ‘perih’ bak ditusuk jarum. Pak budi adalah salah satu anggota
pemerhati lingkungan. Tak heran kalau ia begitu sangat marah, jika melihat
lingkungan yang asri telak dirusak. Terlebih lagi, pelakunya adalah calon guru
Biologi yang seharusnya mengajarkan siswa-siswanya kelak untuk selalu menjaga
lingkungan. Banyak komentar negatif dari para pemilik akun facebook teman-teman
Pak Budi. Para mahasiswa benar-benar telah menerima sanksi berupa celaan,
hinaan dan dipermalukan di media publik.
Di tengah kesedihannya, Mira tak
melupakan tugas makul yang lain. Malam itu, ia harus menengok tanaman-tanaman
jagungnya di lantai atap. Biasanya anak-anak kos menggunakan tempat itu untuk
menjemur jemuran. Di malam yang begitu dingin dan sepi, Mira meluapkan segala
emosinya dan menangis sepanjang malam. Di sisi yang lain, Vivi pun sudah
membaca status pak Budi di facebook.
Ia pergi ke lantai atap menyusul Mira. Mereka berdua menangis sepanjang malam
bak seperti orang yang mengalami putus cinta. “Mira, aku takut, aku takut, aku
takut, calon guru macam apa kita ini” kata Vivi sambil menahan isak tangis.
“Vivi, kenapa ya di facebook,
komentarnya negatif dan mempermalukan kita semua, padahal kita hanya menulis nama
di batu. Aku dengar ada salah satu teman di rombel lain yang mencabut anggrek
hutan, bukan kah itu juga merusak lingkungan? kenapa hanya kita yang dicela?”
tanya Mira sambil menahan isak tangis. “Entah aku tidak tahu Mir, yang jelas,
kita harus minta maaf, mengakui kesalahan dan berjanji tidak akan melakukan hal
itu lagi. Kita berjanji akan menjaga kearifan lingkungan” jawab Vivi. Permohonan maaf dan mengakui kesalahan itulah
yang penting bukan mencari kesalahan orang lain. Mereka berdua larut dalam
kesedihan.
***
Esok harinya, masih diselimuti rasa
malu, Mira melangkahkan kaki ke laboratorium menuju kelas. Hari itu Mira ada
kelas di lab. Sama halnya dengan teman-teman Mira yang lain yang merasa
tertekan. Akhirnya dengan bantuan Warda, mereka meminta maaf kepada pak Budi.
Warda berhasil bernegoisasi dengan pak Budi. Pak Budi akan memberikan
pengampunan untuk mereka dengan syarat, mereka harus kembali ke hutan dan
menghapus ‘prasasti’ itu dengan melampirkan bukti foto sebelum, sedang
berlangsung, dan sesudah proses pembersihan serta harus ada salah satu dari
aktivis lingkungan yang menemani mereka. Warda bersedia menemani mereka dalam
misi penghapusan tulisan tersebut. Mira dan teman-temannya sedikit lega. Lalu
ia memikirkan cara bagaimana menghapus spidol pada batu. Ia men-search di google. Salah satu blog,
mengatakan bahwa spidol dapat dihapus menggunakan bahan kimia paint remover. Tanpa pikir panjang, sore harinya ia bersama vivi
membeli paint remover di salah satu
toko bangunan terdekat.
***
Esok harinya, Mira, Vivi, Nadia yang
ditemani teman laki-lakinya, dan juga Wardha melaksanakan misi penghapusan
tulisan di batu hutan lindung. Lokasi hutan dari kampus cukup jauh sehingga
mereka menggunakan motor untuk mencapai lokasi. Karena keterbatasan motor, maka Monika tidak
bisa ikut. Begitu juga dengan Burhan tidak bisa ikut karena suatu hal. Sekitar
30 menit, akhirnya mereka sampai di lokasi. Hujan gerimis tak menghentikan
langkah mereka untuk mempertanggungjawabkan kesalahan yang mereka perbuat.
Waktu itu sampai disana bertepatan dengan sholat dzuhur. Mereka sholat terlebih
dahulu di sebuah musholla kecil sebelum melakukan misi tersebut. Tak
lupa Warda meminta izin ke ketua dukuh setempat.
Mira dan teman-temannya memulai
perjalanan melawati jalan setapak sembari mengingat-ingat lokasi batu tersebut. Ketika
melawati persawahan, Mira melihat ikan yang sedang terkapar, seraya akan mati.
Dengan cepat ia mengambil ikan tersebut dan memasukkannya dalam genangan air
sawah. Lalu ikan tersebut akhirnya bisa berenang. Sejak saat itu, Mira berjanji
pada dirinya sendiri untuk selalu peduli dan menjaga kearifan lingkungan. Akhirnya
Mira dan teman-temannya menemukan lokasi batu yang membuatnya harus terlibat
dalam kasus. Mereka semua mengeluarkan barang-barang yang digunakan untuk
menghapus tulisan tersebut, seperti paint
remove, sikat kamar mandi, dan air yang diambilnya dari sungai. Mereka berpikir ulang untuk menggunakan
paint remover. “Jangan menggunakan paint remover”, kata Warda. “Paint remover adalah bahan kimia. Jika
digunakan sama saja mencemari lingkungan lagi”, tambahnya. “Oiya ya..terus
bagaimana cara menghapusnya?”tanya Mira. Nadia mecoba menyiram batu tersebut
kemudian menyikatnya dengan sikat kamar mandi namun tak berhasil. Spidol yang
mereka gunakan bersifat permanent, yang sulit untuk dihapus. Mereka terus
memikirkan caranya. Akhirnya, mereka
menyepakati langkah penghapusan tulisan dengan cara pengkikiran. Untungnya, Mira
membawa pisau kecil (pemes) dalam kotak pensilnya. Mereka memulai mengikir
tulisan tersebut sidikit demi sedikit. Untungnya tulisan itu tidak telalu
besar. Kalau diestimasi, kira-kira huruf-hurufnya seukuran 12 font size times new roman di Microsof Word. Setelah
itu, ia mengguyur dan menyikatnya dengan sekuat tenaga agar permukaan tampak
rata dan tulisan itu tak terbaca, walaupun sedikit membekas. Namun, ini lebih baik dari pada menggunakan paint remover. Tak lupa Warda akan tanggung jawabnya, ia mengambil foto-foto dalam misi
penghapusan tulisan.
***
Esok harinya
Warda menyerahkan bukti foto ke pak Budi. Itu artinya pak Budi akan segera
memaafkan kesalahan mereka. Kini beban dan perasaan bersalah yang menyelimuti
Mira dan teman-temannya berkurang. Mereka lega karena masalah ini telah
selesai. Malam harinya pak Budi mengupload bukti foto-foto misi penghapusan
tulisan di batu dan menulis status bahwa para mahasiswa tersebut sudah menerima
sanksi dan melaksanakan tanggung jawabnya atas kesalahan yang mereka lakukan. Mira dan teman-temannya benar-benar lega. Mereka
semua kembali dalam aura yang positif dalam menatap masa depan.
---The end---
***


