Halloo
nitizen..sesuai dengan my promise, kali ini aku ngepost tentang lika-liku perjalananku
mengikuti seleksi CPNS Kemenag 2018. Sebenarnya tulisan ini sudah aku buat lama
untuk mengikuti lomba nulis Cerpen yang diadakan oleh Kemenag, but sayang
seribu sayang, TIDAK MENANG, hehehe. It’s okay…di blog pribadiku aku bisa tulis
panjang lebar sepuasnya deh (gak ada batasan kayag lomba Cerpen tadi yang mesti maksimal 1.500 kata [asseekk :D].
Oiya..mungkin
sebagian orang menganggap perjuanganku itu biasa-biasa aja alias kurang greget.
Kalau dibandingin dengan perjuangan pelamar CPNS yang tinggal di 3T atau latar
belakang ekonomi keluarga yang sangat kurang, ibu yang mengandung 9 bulan, calon pengantin
yang nikah H-1 pelaksanaan test, pejuang CPNS sejati yang udah berkali-kali
ikut tes namun gagal, atau penderita difabel, tentu perjuanganku akan terlihat
biasa-biasa saja, hehe. Tapi justru aku semakin bersyukur, karena Allah SWT
mempermudah jalanku dan ini adalah pertama kalinya aku mengikuti seleksi CPNS
di umurku yang ke-25 (hehehe). Terima kasih ya Allah.
Well,
aku mulai ceritanya yah..
Selasa,
15 Januari 2019 adalah hari yang paling mendebarkan selama hidupku. Hari itu
adalah hari pengumuman kelulusan seleksi akhir CPNS Kemenag 2018. Hari itu adalah
hari yang spesial. Kenapa bisa begitu? Karena aku tidak hanya memperjuangkan
mimpiku saja, namun juga mimpi kedua orang tuaku. Hal yang paling membahagiakan
bagiku adalah membahagiakan kedua orang tuaku. Penantian yang cukup panjang,
akhirnya membuahkan kabar bahagia. Alhamdulillah, aku masuk peringkat 5 dari 7
formasi yang dibutuhkan. Itu artinya, aku lolos seleksi akhir CPNS Kemenag
2018. Rasa syukur tak henti-hentinya, ku panjatkan kehadirat Allah SWT yang
telah memberikan kesempatan dan amanah itu padaku. Terima kasih ya Allah. Tak lupa, aku ingin
mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tuaku; my twin sister dan kakak-kakakku; dosen/guru-guruku; dan juga semua
orang yang selalu mendoakan aku.
Bulan
Juli 2018 lalu, aku diwisuda di Universitas Gadjah Mada dan mendapatkan gelar
M.Sc. Tentu, setelah lulus aku ingin segera mendapatkan pekerjaan. Waktu itu,
aku mendengar kabar bahwa akan ada seleksi CPNS 2018, namun belum diketahui
pasti kapan jadwalnya. Kedua orang tuaku memintaku untuk sabar dan menunggu
informasi seleksi CPNS 2018. Namun, rasanya malu bila harus membiarkan diri ini
berdiam diri di rumah sementara kabar tentang CPNS pun masih belum jelas. Akhirnya
aku memutuskan membuat surat lamaran pekerjaan dan kusebar di berbagai sekolah
(SMA) di Jepara. Sembari menunggu panggilan kerja, aku kerja freelance (ngajar di Bimbel, private (di rumahku), dan persiapan OSK
Biologi di MAN 1 Jepara). Oiya, ternyata melamar kerja tak semudah yang aku
bayangkan. Sebelum ini aku coba-coba ikutan SODP BRI Syariah, namun gagal di tahap wawancara awal. Kapan-kapan deh aku bakal ngepost pengalamanku dalam melamar kerja. Stay
tune!
Akhirnya
pada bulan September 2018, informasi CPNS 2018 dirilis. Aku sangat senang. Aku
adalah tipe orang yang penuh pertimbangan dalam memutuskan suatu hal. Aku
memikirkan matang-matang mengenai formasi yang akan kupilih. Setelah berdiskusi
dengan keluargaku, akhirnya aku memutuskan untuk melamar formasi dosen Biologi.
Sebenarnya aku pengen banget ambil formasi guru. Namun, formasi guru yang ada
di Jawa Tengah sangat sedikit dan peminatnya ratusan orang. Tau sendiri kan
lulusan S1 pendidikan jumlahnya membludak tidap tahun? Hehehehe. Kenapa nggak
memilih formasi guru di daerah lain? Prinsipku, kalau boleh memiilih daerah
yang dekat dengan rumah, kenapa tidak? Hehehe. Terlebih lagi, selain nantinya
aku berkewajiban mengabdi pada negara, aku juga memiliki kewajiban merawat
orangtuaku yang semakin menua. Kalau aku tinggal di luar pulau jawa, siapa yang
akan merawat orang tuaku? Dan di luar pulau Jawa juga memiliki lulusan
sarjana/magister putra daerah yang juga dapat mengabdikan diri mereka di daerah
kelahirannya masing-masing. Jadi pilihanku sekaligus memberikan kesempatan
untuk putra daerah untuk mengabdi dan berkarya hehehe. (Banyak alasan banget ya
aku, hehe jangan ditiru ya…)
Well,
aku melirik 2 Kementerian yang menawarkan formasi dosen Biologi, yakni
Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi RI dan Kementerian Agama
RI. Aku memilih formasi yang memiliki peluang lebih tinggi untuk lolos dan
kalau bisa yang tempat kerjanya dekat dengan rumah, hehehe. Akhirnya, aku memutuskan
untuk melamar Formasi Dosen Biologi (Jalur Cumlaude)
di UIN Walisongo Semarang, ikut Kemenag RI. Sebenarnya aku takut karena aku
sendiri bukan alumni UIN Walisongo. Belum lagi nanti kalau bersaing dengan
dosen kontrak yang sudah ngajar lebih dulu di sana dan tentu jam terbang
ngajarnya tinggi. Namun, aku percaya bahwa seleksi CPNS 2018 insyaallah fair
dan Allah telah mengatur rezeki seseorang. Insyaallah, rezeki tidak akan pernah
tertukar.
Seperti
halnya teman-teman yang lain, aku juga mengalami kendala saat registrasi online untuk seleksi administrasi. Server down. Pasalnya, pendaftar CPNS
tahun 2018 jumlahnya jutaan. Di Kemenag sendiri, jumlah pendaftar mencapai
265.273 orang. Belum lagi dari instansi-instansi lain. Aku memilih waktu jam
tidur (sekitar pukul 00.00-04.00 WIB) untuk melakukan registrasi online. Aku
menginap di rumah mbakku yang ada WIFInya. Namun, masih saja website sulit
diakses. Hingga tanggal 30 September 2018, website sscn sedang tahap maintenance. Batas akhir pendaftaran
kalau tidak salah 8 Oktober, namun akhirnya diundur sampai tanggal 15 Oktober
2018. Momen-momen ini bikin khawatir, takut kehabisan waktu, karena server yang
sulit diakses. Aku berusaha agar bisa registrasi sebelum tanggal 8. Akhirnya,
aku berhasil melakukan registrasi pada tanggal 2 Oktober 2018.
Setelah
itu, aku mengirimkan berkas ke satker (UIN Walisongo Semarang). Sebenarnya,
tahap ini tidak terlalu sulit, bahkan setiap format berkas yang dikirim ke
Satker, sudah dijalaskan di IG Kemenag dengan jelas. Namun, pertanyaan para
nitizen di kolom komentar instagram malah membuat aku jadi bingung sendiri,
hehehe. Mulai dari pertanyaat tentang surat lamaran diketik atau ditulistangan,
jenis dan ukuran font, ligalisir Ijazah dan sertifikat BANPT, dan masih banyak
lagi. Aku tetap menyimak setiap pertanyaan karena tahap ini adalah tahap awal
dan aku harus memastikan diriku untuk lolos seleksi administrasi supaya aku bisa
ikut SKD. Setelah semua berkasku lengkap, aku mengirimkan berkas lewat POS di
hari Jumat (5 September 2018). Tiba-tiba, keraguanku muncul, setelah aku menonton
Live IG Kemenag, yang menginformasikan bahwa keterangan formasi dari potongan
kartu pendaftaran ditempel di ampolp kiri atas. Aku benar-benar cemas, sumpah!.
Akhirnya, hari Senin nya, aku ke UIN Walisongo Semarang, hanya untuk mengganti
amplop. BTW, ini adalah hal terkonyol yang pernah aku lakukan, hehehe :D
[jangan ditiru yaa]. Aku kesana diantar Bapakku naik motor PP dari
Jepara-Semarang. Dulu aku berani motoran sendirian Jepara-Semarang, tapi
sekarang aku jarang motoran jarak jauh. Jadi aku dianter naik motor sama bapak.
Maklum gak punya mobil (doakan ya supaya tahun depan punya mobil sendiri
hehehe). Bapakku memang selalu mendukungku. Ia tak pernah lelah mengantarkanku
ke pintu gerbang kesuksesan. Love Bapakkee
Rabu,
24 Oktober 2018. Akhirnya pengumuman seleksi administrasi dirilis. Alhamdulillah,
aku lolos. Jumlah pendaftar di formasi yang aku pilih yakni 18 orang. Namun,
gugur 3 orang. Akhirnya hanya 15 orang yang ikut SKD. Formasi yang dibutuhkan 7
orang. Lumayan banyak. That’s why,
salah satu alasan aku memilih formasi di UIN Walisongo Semarang.
Sebenarnya, jarak
waktu akhir pendaftaran dan pengumuman cukup lama, bahkan tidak ada yang tahu
kapan pengumuman akan dirilis. Aku pergunakan waktu sebaik-baiknya untuk
belajar SKD. Aku belajar materi dan latihan soal dari buku persiapan seleksi
CPNS yang aku beli di Jogja (tebelnya masyaallah :p). Aku juga membeli buku
saku UUD 1945, dan ketika luang aku membacanya, hingga hafal, hehehe. Kalau
sekarang ditanya, aku sudah lupa :D. Tes SKD kali ini, aku belajar sungguh-sungguh.
Meskipun banyak orang yang bilang kalau seleksi CPNS itu bergantung pada nasib.
“Percuma belajar, nggak akan keluar di soal !”. Sungguh kalimat tersebut
menyakitkan. Namun, aku percaya, tidak ada hasil yang menghianati usaha. Aku
belajar sebagai bentuk ikhtiarku. Dan tentunya, aku selalu berdoa kepada Allah,
semoga ikhtiarku ini akan membuahkan hasil.
Foto: amunisi andalanku wkwkwk
Aku
mendapatkan jadwal SKD pada hari Kamis, 8 November 2018 di GOR PATRIOT KODAM
IV/DIPONEGORO, Semarang, pukul 14.30-16.00 WIB. Sebelumnya, aku mendapat
informasi bahwa pelaksanaan tes SKD di instansi lain molor. Misal dapat jadwal
tes di siang hari, tesnya jadi tengah malam. Rasanya tidak adil mengerjakan tes
pada jam-jam istirahat. Apalagi kondisi badan sudah capek karena menunggu
sedari siang. Bahkan, ada instansi yang mengundur jadwal di hari H pelaksanaan
tes, seperti yang dialami oleh tetanggaku. Kasihan sekali peserta yang tempat
tinggalnya jauh, harus bolak-balik dan tentu membutuhkan ongkos yang tidak
sedikit. Beruntungnya aku mengikuti seleksi CPNS di Kemenag, karena hal semacam
itu tidak terjadi. Aku salut karena pelaksanaan seleksi CPNS di kemenag tepat
waktu. Walaupun aku harus melalui masa menunggu (salahku sendiri, aku datangnya
kepagian :D).
SKD
berbasis CAT terdiri dari 3 sub yakni TWK, TIU dan TKP, dikerjakan dalam waktu
90 menit. Sebelumnya aku mendengar bahwa tes yang paling menjatuhkan adalah
TKP. Namun, aku sedikit tenang, karena aku ikut jalur Cumlaude. Aku hanya perlu mendapatkan nilai TIU di atas 85 dengan
jumlah total minimal 298. Tapi aku tidak
mau terlena. Aku kerjakan dengan sungguh-sungguh semua soal. Alhamdulillah, aku
mendapatkan skor yang cukup baik: TWK (145), TIU (100) dan TKP (133).
Sebenarnya aku sedih karena TKP kurang dari 143. Tapi tidak mengapa, yang
terpenting insyaallah aku berkesempatan ikut tes SKB nantinya.
Setelah penantian yang cukup lama, akhirnya pengumuman
kelulusan SKD dirilis pada hari Selasa, 19 Desember 2018. Alhamdulillah aku
lolos SKD dan menempati posisi 2 dari 11 pelamar yang lolos SKD. Artinya, 4
orang harus tereliminasi di SKB untuk mengisi 7 formasi. Walaupun aku berada di
posisi 2, tentu aku tidak boleh senang dulu. Hal ini karena sainganku adalah
orang-orang yang hebat dan punya pengalaman mengajar yang banyak. Sementara
aku, masih newbie (alias fresh graduate) yang pengalamannya masih sedikit.
Namun, aku tidak berkecil hati, justru aku semakin semangat belajar untuk SKB.
Tes
SKB terdiri dari tes psikotes, wawancara dan praktik kerja. Untuk persiapan
SKB, aku lebih menekankan ke tahap wawancara dan praktik kerja, karena tes
psikotes sudah aku pelajari waktu SKD dulu. Oiya, kemenag itu lain dari yang
lain. Walaupun aku daftar formasi dosen umum (bukan berkaitan dengan ilmu
keagamaan), aku tetap harus belajar tentang keagamaan. Jadi, di tahap
wawancara, tidak hanya materi kebangsaan yang ditanyakan, tetapi juga
keagamaan. Oleh karena itu, aku persiapkan bekalku mulai dari dari hafalan
surat-surat pendek, tajwid, dan doa harian Aku juga membuat RPS, modul dan PPT
untuk microteaching.
Tes
SKB UIN Walisongo dilaksanakan di Hotel Setos Semarang (17-19 Desember 2018).
Aku berusaha keras selama tes. Setelah tes psikotes selesai, aku benar-benar
pasrah, karena ada beberapa soal yang tidak bisa kukerjakan (karma akibat
menganggap remeh test psikotes :D jangan ditiru yaa :p). Aku kembali ke hotel di
daerah pecinan tempatku menginap. Hotel
yang lebih murah dan cocok dikantong hehe. Sore harinya, jadwal test wawancara
dan psikotes keluar. Aku mendapat jadwal wawancara dan praktik kerja pada
tanggal 18 Desember 2018 pukul 15.00-17.00 WIB. Aku tak punya cukup banyak
waktu buat belajar. Aku kembali me-refresh hafalanku, memperbanyak baca artikel
dan membuat argument untuk setiap artikel biar aku paham, latihan microteaching
dengan suara keras (maapkann bikin bising).
Yey.
Fighting day is coming. Aku datang 1 jam lebih awal naik gojek. Dan ternyata
jadwalnya molor huhuhu :(. Aku sendiri baru tes sekitar pukul 20.30 WIB. Aku tidak
membawa bekal makanan dan malas untuk kebawah beli makanan. Sebenarnya aku bisa
aja order makanan online, tapi aku memilih menahan rasa lapar dan belajar saja.
Maklum jantung ini masih dagdigdug derr. Saat menunggu waktu tes, aku mengobrol
dengan pejuang CPNS lainnya, jadi tidak begitu membosankan.
Akhirnya
giliranku. Deg-degan rasanya. Tapi aku lalui semuanya dengan Bismillah. Oiya
aku coba ingat-ingat daftar pertanyaan yang ditanyakan seputar apa, siapa tau
kalian wahai nitizen membutuhkan hehe. Pertanyaan pertama standar tentang
biodata diri, ditanyain asalnya mana, lulusan mana, tahun berapa, S1 nya
dimana, udah kerja apa belum, pernah ngajar dimana? Dan lain-lain. Selanjutnya,
diminta praktik sholat subuh. Tapi setelah aku konfirmasi, aku cuma disuruh
melafalkan bacaan sholatnya aja dari takbir-iftitah-surat al-fatikhah-bacaan
surat-ruku’-I’tidal-langsung ditutup bacaan qunut ( jadi jelas nggak pake
gerakan sholat). Reviwernya benar-benar memperhatikan sampai aku jadi gerogi. Hehehe.
Oiya waktu aku mau baca surat al-kafirun, reviwernya langsung memotong, dan
minta ganti yang sedikit panjang. Duh aku bingung, akhirnya aku pilih surat
As-Syams. Hehehe. Lalu reviewer membuka al-quran secara acak, dan aku diminta
membacanya. Setelah itu, ada sesi pertanyaan yang bikin aku drop, yakni
reviewer membaca ayat di komputernya, lalu ia menanyakan maksud ayat yang
dibaca apa. Jujur aku tidak tahu arti dan maksudnya dan aku katakan kalau aku
tidak tahu. Aku benar-benar pasrah. Apapun hasilnya, semoga itu adalah yang
terbaik untukku. Lalu, aku diminta nulis arab (lafadz taawudz dan ayat 1 dari
surat al-kautsar). Kali ini aku sedikit lega, aku mendapat pujian. Kata para
reviewer tulisan tanganku cukup bagus hehehe. Pertanyaan lain tentang khilafah,
ideology Pancasila, HTI, kelompok/organisasi yang anarkis, indikasi organisasi
yang bertentangan dengan idiologi di kalangan kampus, bid’ah, komitmen kita
terhadap negara, dan lain-lain. Kalau pertanyaan seputar kampus dan bidang
keahlian ditanyakan waktu sesi microteaching. Oiya waktu microteaching diharuskan
pakai Bahasa selain Bahasa Indonesia. Aku disuruh pilih antara Bahasa Arab dan
English. Akhirnya aku pilih English. Dan yaa….microtechingku distop di
tengah-tengah. Katanya beliau-beliau sudah bisa menilai. Benar-benar pasrah lah
aku. Jadi semakin tidak tenang, takut hasilnya kurang maksimal. Wallahu a’lam.
Aku tidak putus berdoa.
Menurutku,
pengumuman akhir CPNS 2018 Kemenag terbilang cukup lama. Namun, itu wajar
karena pelamar CPNS Kemenag memang banyak. Aku turut merasakan kegelisahan
seperti yang dialami para nitizen di akun SOSMED. Apalagi saat fenomena ‘DRH’
di akun SSCN, hehehe. Setiap 1 jam, aku membuka telegram, IG, atau twitter
untuk memantau info pengumuman. Sampai pada akhirnya, pengumuman kelulusan akhir
CPNS 2018 Kemenag rilis pada 15 Januari 2018. Ohiya, ternyata dugaanku benar.
Nilai SKBku memang kurang memuaskan, namun skor SKD-ku menyelamatkanku.
Posisiku turun, dari posisi 2 menjadi posisi 5. Alhamdulillah masih masuk 7
besar. Terimakasih ya Allah. Semoga aku bisa amanah dalam menjalankan tugasku dan bisa bermanfaat untuk bangsa dan negara Indonesia. Aamiin.
Sekian pengalamanku. Happy reading :D
Oiya saat ini sedang proses pengeNIPan di BKN. Mohon doanya untuk saya, semoga semua lancar, dapat NIP dan SK, dan mulai ngajar di semester baru. Aamiin. Pasalnya, ada calon ASN yang ternyata TMS, namun sejauh ini insyaallah syarat dan berkas yang ku kumpulkan sudah sesuai dengan yang disyaratkan di permenpan. semoga lancar Aamiin
Oiya saat ini sedang proses pengeNIPan di BKN. Mohon doanya untuk saya, semoga semua lancar, dapat NIP dan SK, dan mulai ngajar di semester baru. Aamiin. Pasalnya, ada calon ASN yang ternyata TMS, namun sejauh ini insyaallah syarat dan berkas yang ku kumpulkan sudah sesuai dengan yang disyaratkan di permenpan. semoga lancar Aamiin
