Minggu, 07 April 2019

Lika-liku Perjalananku Mengikuti Seleksi CPNS Kemenag 2018

Halloo nitizen..sesuai dengan my promise, kali ini aku ngepost tentang lika-liku perjalananku mengikuti seleksi CPNS Kemenag 2018. Sebenarnya tulisan ini sudah aku buat lama untuk mengikuti lomba nulis Cerpen yang diadakan oleh Kemenag, but sayang seribu sayang, TIDAK MENANG, hehehe. It’s okay…di blog pribadiku aku bisa tulis panjang lebar sepuasnya deh (gak ada batasan kayag lomba Cerpen tadi yang mesti maksimal 1.500 kata [asseekk :D].

Oiya..mungkin sebagian orang menganggap perjuanganku itu biasa-biasa aja alias kurang greget. Kalau dibandingin dengan perjuangan pelamar CPNS yang tinggal di 3T atau latar belakang ekonomi keluarga yang sangat kurang,  ibu yang mengandung 9 bulan, calon pengantin yang nikah H-1 pelaksanaan test, pejuang CPNS sejati yang udah berkali-kali ikut tes namun gagal, atau penderita difabel, tentu perjuanganku akan terlihat biasa-biasa saja, hehe. Tapi justru aku semakin bersyukur, karena Allah SWT mempermudah jalanku dan ini adalah pertama kalinya aku mengikuti seleksi CPNS di umurku yang ke-25 (hehehe). Terima kasih ya Allah.

Well, aku mulai ceritanya yah..

Selasa, 15 Januari 2019 adalah hari yang paling mendebarkan selama hidupku. Hari itu adalah hari pengumuman kelulusan seleksi akhir CPNS Kemenag 2018. Hari itu adalah hari yang spesial. Kenapa bisa begitu? Karena aku tidak hanya memperjuangkan mimpiku saja, namun juga mimpi kedua orang tuaku. Hal yang paling membahagiakan bagiku adalah membahagiakan kedua orang tuaku. Penantian yang cukup panjang, akhirnya membuahkan kabar bahagia. Alhamdulillah, aku masuk peringkat 5 dari 7 formasi yang dibutuhkan. Itu artinya, aku lolos seleksi akhir CPNS Kemenag 2018. Rasa syukur tak henti-hentinya, ku panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kesempatan dan amanah itu padaku.  Terima kasih ya Allah. Tak lupa, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tuaku; my twin sister dan kakak-kakakku; dosen/guru-guruku; dan juga semua orang yang selalu mendoakan aku.

Bulan Juli 2018 lalu, aku diwisuda di Universitas Gadjah Mada dan mendapatkan gelar M.Sc. Tentu, setelah lulus aku ingin segera mendapatkan pekerjaan. Waktu itu, aku mendengar kabar bahwa akan ada seleksi CPNS 2018, namun belum diketahui pasti kapan jadwalnya. Kedua orang tuaku memintaku untuk sabar dan menunggu informasi seleksi CPNS 2018. Namun, rasanya malu bila harus membiarkan diri ini berdiam diri di rumah sementara kabar tentang CPNS pun masih belum jelas. Akhirnya aku memutuskan membuat surat lamaran pekerjaan dan kusebar di berbagai sekolah (SMA) di Jepara. Sembari menunggu panggilan kerja, aku kerja freelance (ngajar di Bimbel, private (di rumahku), dan persiapan OSK Biologi di MAN 1 Jepara). Oiya, ternyata melamar kerja tak semudah yang aku bayangkan. Sebelum ini aku coba-coba ikutan SODP BRI Syariah, namun gagal di tahap wawancara awal. Kapan-kapan deh aku bakal ngepost pengalamanku dalam melamar kerja. Stay tune!

Akhirnya pada bulan September 2018, informasi CPNS 2018 dirilis. Aku sangat senang. Aku adalah tipe orang yang penuh pertimbangan dalam memutuskan suatu hal. Aku memikirkan matang-matang mengenai formasi yang akan kupilih. Setelah berdiskusi dengan keluargaku, akhirnya aku memutuskan untuk melamar formasi dosen Biologi. Sebenarnya aku pengen banget ambil formasi guru. Namun, formasi guru yang ada di Jawa Tengah sangat sedikit dan peminatnya ratusan orang. Tau sendiri kan lulusan S1 pendidikan jumlahnya membludak tidap tahun? Hehehehe. Kenapa nggak memilih formasi guru di daerah lain? Prinsipku, kalau boleh memiilih daerah yang dekat dengan rumah, kenapa tidak? Hehehe. Terlebih lagi, selain nantinya aku berkewajiban mengabdi pada negara, aku juga memiliki kewajiban merawat orangtuaku yang semakin menua. Kalau aku tinggal di luar pulau jawa, siapa yang akan merawat orang tuaku? Dan di luar pulau Jawa juga memiliki lulusan sarjana/magister putra daerah yang juga dapat mengabdikan diri mereka di daerah kelahirannya masing-masing. Jadi pilihanku sekaligus memberikan kesempatan untuk putra daerah untuk mengabdi dan berkarya hehehe. (Banyak alasan banget ya aku, hehe jangan ditiru ya…)

Well, aku melirik 2 Kementerian yang menawarkan formasi dosen Biologi, yakni Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi RI dan Kementerian Agama RI. Aku memilih formasi yang memiliki peluang lebih tinggi untuk lolos dan kalau bisa yang tempat kerjanya dekat dengan rumah, hehehe. Akhirnya, aku memutuskan untuk melamar Formasi Dosen Biologi (Jalur Cumlaude) di UIN Walisongo Semarang, ikut Kemenag RI. Sebenarnya aku takut karena aku sendiri bukan alumni UIN Walisongo. Belum lagi nanti kalau bersaing dengan dosen kontrak yang sudah ngajar lebih dulu di sana dan tentu jam terbang ngajarnya tinggi. Namun, aku percaya bahwa seleksi CPNS 2018 insyaallah fair dan Allah telah mengatur rezeki seseorang. Insyaallah, rezeki tidak akan pernah tertukar.  

Seperti halnya teman-teman yang lain, aku juga mengalami kendala saat registrasi online untuk seleksi administrasi. Server down. Pasalnya, pendaftar CPNS tahun 2018 jumlahnya jutaan. Di Kemenag sendiri, jumlah pendaftar mencapai 265.273 orang. Belum lagi dari instansi-instansi lain. Aku memilih waktu jam tidur (sekitar pukul 00.00-04.00 WIB) untuk melakukan registrasi online. Aku menginap di rumah mbakku yang ada WIFInya. Namun, masih saja website sulit diakses. Hingga tanggal 30 September 2018, website sscn sedang tahap maintenance. Batas akhir pendaftaran kalau tidak salah 8 Oktober, namun akhirnya diundur sampai tanggal 15 Oktober 2018. Momen-momen ini bikin khawatir, takut kehabisan waktu, karena server yang sulit diakses. Aku berusaha agar bisa registrasi sebelum tanggal 8. Akhirnya, aku berhasil melakukan registrasi pada tanggal 2 Oktober 2018.

Setelah itu, aku mengirimkan berkas ke satker (UIN Walisongo Semarang). Sebenarnya, tahap ini tidak terlalu sulit, bahkan setiap format berkas yang dikirim ke Satker, sudah dijalaskan di IG Kemenag dengan jelas. Namun, pertanyaan para nitizen di kolom komentar instagram malah membuat aku jadi bingung sendiri, hehehe. Mulai dari pertanyaat tentang surat lamaran diketik atau ditulistangan, jenis dan ukuran font, ligalisir Ijazah dan sertifikat BANPT, dan masih banyak lagi. Aku tetap menyimak setiap pertanyaan karena tahap ini adalah tahap awal dan aku harus memastikan diriku untuk lolos seleksi administrasi supaya aku bisa ikut SKD. Setelah semua berkasku lengkap, aku mengirimkan berkas lewat POS di hari Jumat (5 September 2018). Tiba-tiba, keraguanku muncul, setelah aku menonton Live IG Kemenag, yang menginformasikan bahwa keterangan formasi dari potongan kartu pendaftaran ditempel di ampolp kiri atas. Aku benar-benar cemas, sumpah!. Akhirnya, hari Senin nya, aku ke UIN Walisongo Semarang, hanya untuk mengganti amplop. BTW, ini adalah hal terkonyol yang pernah aku lakukan, hehehe :D [jangan ditiru yaa]. Aku kesana diantar Bapakku naik motor PP dari Jepara-Semarang. Dulu aku berani motoran sendirian Jepara-Semarang, tapi sekarang aku jarang motoran jarak jauh. Jadi aku dianter naik motor sama bapak. Maklum gak punya mobil (doakan ya supaya tahun depan punya mobil sendiri hehehe). Bapakku memang selalu mendukungku. Ia tak pernah lelah mengantarkanku ke pintu gerbang kesuksesan. Love Bapakkee

Rabu, 24 Oktober 2018. Akhirnya pengumuman seleksi administrasi dirilis. Alhamdulillah, aku lolos. Jumlah pendaftar di formasi yang aku pilih yakni 18 orang. Namun, gugur 3 orang. Akhirnya hanya 15 orang yang ikut SKD. Formasi yang dibutuhkan 7 orang. Lumayan banyak. That’s why, salah satu alasan aku memilih formasi di UIN Walisongo Semarang.

        Sebenarnya, jarak waktu akhir pendaftaran dan pengumuman cukup lama, bahkan tidak ada yang tahu kapan pengumuman akan dirilis. Aku pergunakan waktu sebaik-baiknya untuk belajar SKD. Aku belajar materi dan latihan soal dari buku persiapan seleksi CPNS yang aku beli di Jogja (tebelnya masyaallah :p). Aku juga membeli buku saku UUD 1945, dan ketika luang aku membacanya, hingga hafal, hehehe. Kalau sekarang ditanya, aku sudah lupa :D. Tes SKD kali ini, aku belajar sungguh-sungguh. Meskipun banyak orang yang bilang kalau seleksi CPNS itu bergantung pada nasib. “Percuma belajar, nggak akan keluar di soal !”. Sungguh kalimat tersebut menyakitkan. Namun, aku percaya, tidak ada hasil yang menghianati usaha. Aku belajar sebagai bentuk ikhtiarku. Dan tentunya, aku selalu berdoa kepada Allah, semoga ikhtiarku ini akan membuahkan hasil.



Foto: amunisi andalanku wkwkwk


Aku mendapatkan jadwal SKD pada hari Kamis, 8 November 2018 di GOR PATRIOT KODAM IV/DIPONEGORO, Semarang, pukul 14.30-16.00 WIB. Sebelumnya, aku mendapat informasi bahwa pelaksanaan tes SKD di instansi lain molor. Misal dapat jadwal tes di siang hari, tesnya jadi tengah malam. Rasanya tidak adil mengerjakan tes pada jam-jam istirahat. Apalagi kondisi badan sudah capek karena menunggu sedari siang. Bahkan, ada instansi yang mengundur jadwal di hari H pelaksanaan tes, seperti yang dialami oleh tetanggaku. Kasihan sekali peserta yang tempat tinggalnya jauh, harus bolak-balik dan tentu membutuhkan ongkos yang tidak sedikit. Beruntungnya aku mengikuti seleksi CPNS di Kemenag, karena hal semacam itu tidak terjadi. Aku salut karena pelaksanaan seleksi CPNS di kemenag tepat waktu. Walaupun aku harus melalui masa menunggu (salahku sendiri, aku datangnya kepagian :D).

SKD berbasis CAT terdiri dari 3 sub yakni TWK, TIU dan TKP, dikerjakan dalam waktu 90 menit. Sebelumnya aku mendengar bahwa tes yang paling menjatuhkan adalah TKP. Namun, aku sedikit tenang, karena aku ikut jalur Cumlaude. Aku hanya perlu mendapatkan nilai TIU di atas 85 dengan jumlah total minimal 298.  Tapi aku tidak mau terlena. Aku kerjakan dengan sungguh-sungguh semua soal. Alhamdulillah, aku mendapatkan skor yang cukup baik: TWK (145), TIU (100) dan TKP (133). Sebenarnya aku sedih karena TKP kurang dari 143. Tapi tidak mengapa, yang terpenting insyaallah aku berkesempatan ikut tes SKB nantinya.

            Setelah penantian yang cukup lama, akhirnya pengumuman kelulusan SKD dirilis pada hari Selasa, 19 Desember 2018. Alhamdulillah aku lolos SKD dan menempati posisi 2 dari 11 pelamar yang lolos SKD. Artinya, 4 orang harus tereliminasi di SKB untuk mengisi 7 formasi. Walaupun aku berada di posisi 2, tentu aku tidak boleh senang dulu. Hal ini karena sainganku adalah orang-orang yang hebat dan punya pengalaman mengajar yang banyak. Sementara aku, masih newbie (alias fresh graduate) yang pengalamannya masih sedikit. Namun, aku tidak berkecil hati, justru aku semakin semangat belajar untuk SKB.  

Tes SKB terdiri dari tes psikotes, wawancara dan praktik kerja. Untuk persiapan SKB, aku lebih menekankan ke tahap wawancara dan praktik kerja, karena tes psikotes sudah aku pelajari waktu SKD dulu. Oiya, kemenag itu lain dari yang lain. Walaupun aku daftar formasi dosen umum (bukan berkaitan dengan ilmu keagamaan), aku tetap harus belajar tentang keagamaan. Jadi, di tahap wawancara, tidak hanya materi kebangsaan yang ditanyakan, tetapi juga keagamaan. Oleh karena itu, aku persiapkan bekalku mulai dari dari hafalan surat-surat pendek, tajwid, dan doa harian Aku juga membuat RPS, modul dan PPT untuk microteaching.

Tes SKB UIN Walisongo dilaksanakan di Hotel Setos Semarang (17-19 Desember 2018). Aku berusaha keras selama tes. Setelah tes psikotes selesai, aku benar-benar pasrah, karena ada beberapa soal yang tidak bisa kukerjakan (karma akibat menganggap remeh test psikotes :D jangan ditiru yaa :p). Aku kembali ke hotel di daerah pecinan tempatku menginap.  Hotel yang lebih murah dan cocok dikantong hehe. Sore harinya, jadwal test wawancara dan psikotes keluar. Aku mendapat jadwal wawancara dan praktik kerja pada tanggal 18 Desember 2018 pukul 15.00-17.00 WIB. Aku tak punya cukup banyak waktu buat belajar. Aku kembali me-refresh hafalanku, memperbanyak baca artikel dan membuat argument untuk setiap artikel biar aku paham, latihan microteaching dengan suara keras (maapkann bikin bising).

Yey. Fighting day is coming. Aku datang 1 jam lebih awal naik gojek. Dan ternyata jadwalnya molor huhuhu :(. Aku sendiri baru tes sekitar pukul 20.30 WIB. Aku tidak membawa bekal makanan dan malas untuk kebawah beli makanan. Sebenarnya aku bisa aja order makanan online, tapi aku memilih menahan rasa lapar dan belajar saja. Maklum jantung ini masih dagdigdug derr. Saat menunggu waktu tes, aku mengobrol dengan pejuang CPNS lainnya, jadi tidak begitu membosankan.
Akhirnya giliranku. Deg-degan rasanya. Tapi aku lalui semuanya dengan Bismillah. Oiya aku coba ingat-ingat daftar pertanyaan yang ditanyakan seputar apa, siapa tau kalian wahai nitizen membutuhkan hehe. Pertanyaan pertama standar tentang biodata diri, ditanyain asalnya mana, lulusan mana, tahun berapa, S1 nya dimana, udah kerja apa belum, pernah ngajar dimana? Dan lain-lain. Selanjutnya, diminta praktik sholat subuh. Tapi setelah aku konfirmasi, aku cuma disuruh melafalkan bacaan sholatnya aja dari takbir-iftitah-surat al-fatikhah-bacaan surat-ruku’-I’tidal-langsung ditutup bacaan qunut ( jadi jelas nggak pake gerakan sholat). Reviwernya benar-benar memperhatikan sampai aku jadi gerogi. Hehehe. Oiya waktu aku mau baca surat al-kafirun, reviwernya langsung memotong, dan minta ganti yang sedikit panjang. Duh aku bingung, akhirnya aku pilih surat As-Syams. Hehehe. Lalu reviewer membuka al-quran secara acak, dan aku diminta membacanya. Setelah itu, ada sesi pertanyaan yang bikin aku drop, yakni reviewer membaca ayat di komputernya, lalu ia menanyakan maksud ayat yang dibaca apa. Jujur aku tidak tahu arti dan maksudnya dan aku katakan kalau aku tidak tahu. Aku benar-benar pasrah. Apapun hasilnya, semoga itu adalah yang terbaik untukku. Lalu, aku diminta nulis arab (lafadz taawudz dan ayat 1 dari surat al-kautsar). Kali ini aku sedikit lega, aku mendapat pujian. Kata para reviewer tulisan tanganku cukup bagus hehehe. Pertanyaan lain tentang khilafah, ideology Pancasila, HTI, kelompok/organisasi yang anarkis, indikasi organisasi yang bertentangan dengan idiologi di kalangan kampus, bid’ah, komitmen kita terhadap negara, dan lain-lain. Kalau pertanyaan seputar kampus dan bidang keahlian ditanyakan waktu sesi microteaching. Oiya waktu microteaching diharuskan pakai Bahasa selain Bahasa Indonesia. Aku disuruh pilih antara Bahasa Arab dan English. Akhirnya aku pilih English. Dan yaa….microtechingku distop di tengah-tengah. Katanya beliau-beliau sudah bisa menilai. Benar-benar pasrah lah aku. Jadi semakin tidak tenang, takut hasilnya kurang maksimal. Wallahu a’lam. Aku tidak putus berdoa.

Menurutku, pengumuman akhir CPNS 2018 Kemenag terbilang cukup lama. Namun, itu wajar karena pelamar CPNS Kemenag memang banyak. Aku turut merasakan kegelisahan seperti yang dialami para nitizen di akun SOSMED. Apalagi saat fenomena ‘DRH’ di akun SSCN, hehehe. Setiap 1 jam, aku membuka telegram, IG, atau twitter untuk memantau info pengumuman. Sampai pada akhirnya, pengumuman kelulusan akhir CPNS 2018 Kemenag rilis pada 15 Januari 2018. Ohiya, ternyata dugaanku benar. Nilai SKBku memang kurang memuaskan, namun skor SKD-ku menyelamatkanku. Posisiku turun, dari posisi 2 menjadi posisi 5. Alhamdulillah masih masuk 7 besar. Terimakasih ya Allah. Semoga aku bisa amanah dalam menjalankan tugasku dan bisa bermanfaat untuk bangsa dan negara Indonesia. Aamiin.

Sekian pengalamanku. Happy reading :D

Oiya saat ini sedang proses pengeNIPan di BKN. Mohon doanya untuk saya, semoga semua lancar, dapat NIP dan SK, dan mulai ngajar di semester baru. Aamiin. Pasalnya, ada calon ASN yang ternyata TMS, namun sejauh ini insyaallah syarat dan berkas yang ku kumpulkan sudah sesuai dengan yang disyaratkan di permenpan. semoga lancar Aamiin