Rita Goes to China (PART 1)
Hai..hai…para nitizen yang saya hormati dan sayangi.. J
Aku mau
nyepam di blog lagi nih. Jiah pake ijin segala haha. Ini tentang my very very fantastic experience
haha (lebay.com).
Minggu lalu,
tanggal 25 sampai 30 Juli 2018, aku pergi
bersama-sama teman-teman ku (mbak Syuk, mb Dian, dan mas Khoirul) ke negeri
Tirai Bambu alias China. The first time aku nginjakin kakiku di negara orang
lain, yakni Malaysia (walaupun Cuma transit doang sih) dan China. Harap dimaklumin
yah nitizen. Aku anak kampung yang tidak pernah pergi-pergi ke tempat yang
jauh. Yah,,, paling jauh cuma berkunjung ke Bali, sekali doang pula waktu
piknik SMA, wkwkwk (ngenez.com).
Lebay banget sih Rit, baru aja ke
China udah sombong, pamer pula!!! Nyepam foto dan story di Instagram, facebook,
what’s app, buat apa coba?
Hemm..gak
gitu juga sih hehehe..bukan nya bermaksud mau pamer atau sombong atau apalah. Tapi gimana ya, namanya orang seneng. Apalagi
aku emang suka upload foto aku di IG ku. Kalau tidak suka, ya abaikan saja
hehe. Kalau kalian berada di posisi ku gimana? Nah kalau aku yang suka nyepam
di whatsapp, itu sekaligus memberi kabar ke keluarga di rumah, tentang
kegiatanku ngapain aja di sana hehe..
Ke China itu adalah Rizki yang tidak
tertukar!
Beruntungnya
aku dan temanku (Mbak Syuk) mendapatkan kesempatan bantuan dana Seminar
International dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Tentu, kami tidak
ingin melewatkan kesempatan emas nan berharga itu. Sebenarnya dari beberapa
bulan yang lalu, aku dan temenku (Mbak Syuk) nyari-nyari konferens di Luar
Negeri. Lebih nyari yang ada di Jepang sih. Tapi, yang namanya ke luar negeri
dengan support dana LPDP, tentu aku harus menyesuaikan jadwal pelaksanaan
konferens dan konferensnya juga gak boleh abal-abal. Akhirnya bulan April, aku
dan Mbak Syuk sepakat mau ikutan ABS2018 yang diadakan di Hangzhou, China
(26-29 Juli 2017). Tanggal 5 April lalu, aku dan Mbak Syuk ngajuin permohonan
bantuan dana bantuan seminar internasional ke LPDP. Hemm antara iya pergi atau
tidak sih. Karena pada waktu itu, terjadi perubahan aturan lama ke aturan baru.
Kalau mau tau apa saja perubahannya, cek sendiri ya di website LPDP ! J . Meskipun kami tahu adanya wacana
perubahan, entah kenapa kami tetap apply, berharap ada durian matang yang
runtuh. Jika Allah memberikan rizki kepada kami untuk ke China, pasti Allah
akan mempermudah. Dan, akhirnya, di tanggal 9 April 2018, ada email masuk dari
LPDP yang bilang kalau permohonan bantuan dana seminar Internasional yang aku
ajukan diterima. Alhamdulillah, kado terindah di hari Ulang Tahunku J (aku lahir di tanggal 9 April btw J). Antara percaya dan tidak percaya.
Tak pernah membayangkan sebelumnya kalau aku akan pergi ke luar negeri. I was
so happy..it would be the greatest moment in my life. Alhamdulillah.
Sebenarnya
aku masih tidak pecaya. Apa benar permohonanku diterima dengan ikut aturan
lama? Ah pikiran itu selalu mengganjal. Tapi, Mbak Syuk malah menyuruhku untuk
segera bikin paspor karena aku belum punya paspor. Okay, esok harinya, dengan
perasaan yang masih ragu, aku ke Kantor Imigrasi Surakarta buat bikin paspor.
‘Jauh amat ta, kenapa gak bikin di Jogja aja sih?’. Hemm aku disaranin mbak ku
sih, katanya kalau di sana gak bakal ngantri panjang. Oke, demi ke China nih,
aku traveling ke Surakarta sendirian naik pramex dan dilanjut naik gojek. Perjalanan
seharian karena langsung balik Jogja (PP). Its oke, ini bagian dari perjuangan
dan perngobanan. Malam harinya, keraguanku akhirnya luruh karena jawaban email
dari LPDP kalau permohonanku memang diterima. Dan langkah seterusnya aku dan
mbak syuk mulai sibuk mengurus visa dan beli tiket pesawat. Agak awal-awal sih
beli tiketnya, cari yang murah haha :D.
The first time juga loh aku naik
pesawat!
Udik?
Biarin! Norak? Biarin! hehe..emang
kenyataan kog. Yah. This is the first time aku naik pesawat. Kan udah aku
bilang, aku gak pernah traveling ke tempat yang jauh. Waktu ke bali pas SMA
naik bis terus nyebrang pake kapal very. Waktu ke Jakarta, naik kereta api.
Waktu ke Lamongan dan Malang juga naik Bis. Jadi ini emang pengalaman pertama
:D.
Pertama kali naik pesawat, rasanya
gimana ta?
Hmm…flight
pertama yaitu tujuan Jogja-Jakarta, awalnya takut-takut gimana gitu, apalagi
pas mau take off dan landing. Jantung berdebar kecang, dan telinga mulai
bindeng, mungkin karena perubahan tekanan udara. Hemm.. apalagi aku bayangin
filmnya gita gutawa yang judulnya Love in Perth pas sih Lola ketakutan saat
pesawatnya take off, langsung deh peluk si Dhani wkwkwk. Kalau aku mah yang
penting merem aja dan baca sholawat banyak-banyak. Lama kelamaan, aku terbiasa
hehe. Udah gak begitu takut lagi pas take off dan landing.
Aku, mbak
syuk, mbak dian dan mas khoirul sengaja pilih flight yang ada transitnya, dari
JKT-Kuala Lumpur-Hangzhou. Selain harganya lebih murah, waktu transit yang lama
bisa buat jalan-jalan di Malaysia. Hehe..
Jalan-jalan ke Petronas Twin Tower,
Kuala lumpur, Malaysia
Di Malaysia,
kami tiba sekitar pukul 6 pm. Berhubung flight ke Hangzhou masih pukul 7 am, so
kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Petronas Twin Tower, Kuala Lumpur, Malaysia.
Tempat iconic kalau jalan-jalan ke Malaysia, gak afdhal kalau tidak kesana.
Hehehe. Dari Bandara Kuala Lumpur International Airport 2 (KLIA2), kami naik
mobil grab. Biayanya cukup lumayan mahal kalau dikonvert ke rupiah. Butuh uang sekitar
60 ringgit untuk kesana, ditambah tol 20
ringgit. Tapi kalau 1 mobil diisi 4 orang, sama aja kog kayag naik fast train.
Waktu itu, pilih grab, karena belum tau caranya naik fast train hehe. Sayang
sekali, sampai di Petronas, malah hujan gerimis. Kurang puas sih buat foto-foto
disana, huhu. Oh iya, foto-fotonya cuma di luar hehe. Kami tidak masuk ke Twin
Towernya, wkwkwkw. Waktu itu, kami (eh lebih ke aku aja hehe) agak kerepotan
gitu, karena harus bawa tas yang isinya pakaian ke sana. Gak asyik yaa
jalan-jalan tapi bawa barang-barang bawaan yang super berat. Waktu itu, belum
tahu kalau di bandara KLIA2 ternyata ada tempat penitipan barang (LoL).
Waktu
semakin malam, kami jadi kelaparan. Akhirnya kami mencari tempat makan di mall
Suria KLCC dekat twin tower. Ada bayak foodcourt di sana, banyak pilihan
makanan. Ada makanan khas Malaysia, nasi lemak dan juga makanan khas India.
Harganya menurutku cukup mahal untuk kantong mahasiswa Indonesia seperti kami
sih. Dari sekian menu pilihan, kami memutuskan untuk makan nasi goreng aja. Hehe..Lumayan
harganya bisa hemat, wkwkwkw..
BERSAMBUNG….

