Rabu, 18 Mei 2016

Nilai, IPK, Skor penting gak sih?

     




         Memang nilai, IPK, skor dan sejenisnya bukanlah segala-segalanya. Saya pernah membaca statement seseorang,  nilai itu hanya angka di atas kertas. Besok juga kamu akan lupa setelah lulus”. Saya sangat setuju, meskipun saya menganggap nilai itu ‘sangat teramat penting’ untuk mengukur sejauh mana kemampuanku dan seberepa besar usaha belajarku. Memang benar nilai hanyalah sebuah angka di atas kertas, dan mungkin beberapa tahun lagi kita akan melupakannya. Tapi tunggu dulu, bukankah kalian selalu deg-degan saat akan menerima raport atau nilai akhir sekolah? Lulus atau Tidak?  Bukankah kalian akan deg-degan sampai-sampai  tidak bisa tidur saat kalian akan yudisium? Bukan kah kalian berusaha sekuat tenaga dan belajar sungguh-sungguh agar bisa mencapai grade toefl di atas 500 atau IELTS di atas 6.5 ? Lalu seberapa pentingkah nilai buat kalian?. Bagi mereka yang aktivis, pasti sebagian besar dari mereka berpendapat bahwa nilai memang tidak begitu penting. Yang penting adalah konstribusi kita untuk masyarakat. Saya juga sangat setuju sekali karena konstribusilah yang akan berpengaruh untuk kesejahteraan masyarakat. Namun, sekali lagi jangan memandang nilai itu hanyalah angka belaka. Saya yakin sebagian besar dosen kita yang a real lecturer/advisor bukan dosen abal2 yaa memberikan nilai untuk mahasiswa berdasarkan kemampuannya tidak hanya dari aspek knowledge saja tapi juga dari aspek skill dan sikap mahasiswanya. A real student yang mendapatkan nilai A pada salah satu makul minatnya insyaallah bisa berkonstribusi di dalam masyarakat dengan cara mengaplikasikan ilmunya. Misalnya saja, mahasiswa dari prodi pendidikan. Ia tidak akan disebut seorang guru yang baik jika belum memiliki 4 kompetensi yaitu pedagogik, profesional, kepribadian dan sosial. Bagaimana cara ia mendapatkan semua kompetensi itu? Apakah hanya cukup guru mengajar menggunakan metode yang menarik, based on student center atau kemampuan menggunakan teknologi tanpa dibekali pengetahuan yang luas? Tidak. Kalau guru tidak berpengetahuan yang luas justru akan terlihat ‘bodoh’ di depan siswanya. Contoh lain, lulusan fakultas perternakan bisa berkonstribusi kepada masyarakat dalam acara pelatihan pembuatan pakan fermentasi yang berkualitas untuk ternak. Apakah dalam pelatihan ia tidak membutuhkan pengetahuan bagaimana cara membuat pakan tersebut? Lalu, bagaimana cara ia mendapat ilmu atau pengetahuan yang lebih luas? 'ilmu pengetahuan' adalah kunci utama semua itu. Mereka akan belajar sungguh-sungguh semasa kuliah dan mempunyai target untuk mendapatkan nilai yang terbaik. Karena belajar tanpa target kita akan kehilangan separuh semangat kita.  Ya, konsekuensinya mau tidak mau dosen akan memberikan nilai A. Nilai A ini lebih berbobot dibandingkan nilai A hasil sogokan. Ini lah yang saya maksud ‘nilai itu sangat teramat penting’.

         Jujur, saya merasa agak bingung dan bertanya-tanya dengan statement yang pernah saya baca ini,  “ Demi Allah, kami memiliki teman2 yang nilainya lebih tinggi dari kami, lebih banyak hapalannya, tapi setelah wisuda apa yang mereka dapat?hanya menjadi pegawai biasa. Tak memiliki pengaruh apapun di masyarakat, padahal ilmu mereka melimpah”.  Statement ini seolah-seolah meremehkan  mereka yang mendapatkan nilai yang lebih tinggi.  Untuk orang yang mengeluarkan statement ini, apakah kalian sudah memastikan  teman kalian yang nilainya lebih tinggi itu dan ilmu pengetahuan yang melimpah itu setelah wisuda mereka hanya menjadi pegawai biasa, sehingga kalian membandingkan pekerjaan (rizki) mereka  dengan rezki yang kalian dapat? Atau Apakah statement itu hanyalah ungkapan belaka untuk menghibur diri kalian yang memiliki nilai yang rendah?  Belum tentu. Bisa jadi dalam profesinya sebagai pegawai biasa itu mereka sebenarnya  telah menerapkan ilmu yang selama ini mereka dapatkan dari kampus. Hal itu sangat berbeda jikalau kalian memperoleh perkerjaan yang sebenarnya tidak sesuai dengan jurusan yang kalian ambil saat kuliah dan kalian bisa sukses dengan pekerjaan itu. Misalnya saja kamu mengambil jurusan biologi atau fisika, tapi setelah lulus kamu memilih untuk membuka sebuah toko baju, lalu usahamu itu sangat sukses. Ya, di sini kamu akan bilang nilai itu tidak penting atau orang yang nilainya lebih tinggi akan percuma, toh nantinya akan menjadi pegawai biasa. Lebih baik sukses walaupun dengan nilai C. Ingatlah teman-teman, rizki sesorang sudah ada yang mengatur. Syukuri saja nikmat yang kalian dapatkan. Jangan membanding-membandingkan rizkimu dengan rizki temanmu. Allah sudah mengatur sedemikian rupa agar kamu dapat lebih bersyukur.

       Yang terpenting disini adalah lihatlah apa potensi yang ada pada dirimu!. Terkadang sebagian besar orang mengalami kesulitan dalam bersosialisasi dan membangun bisnis, tapi mereka memiliki otak yang cerdas dan pengetahuan yang luas. Mereka bekerja sebagai pegawai biasa atau guru dengan gaji yang kecil tak masalah. Mereka senang melakukan itu. Jika kamu pintar menggeluti dunia bisnis, maka teruskanlah. Tidak ada yang melarang. Jangan saling meremehkan pekerjaan temanmu. 

         Sekali lagi nilai yang seperti apa dulu sehingga kita mengganggap nilai itu bukanlah segala-galanya?  Dan jangan lupa untuk berbagi ilmu yang kita dapatkan.

       Saya disini bukanlah orang yang selalu mendapatkan nilai yang tinggi. Saya juga bukanlah seorang aktivis masyarakat.  Ini semua hanyalah pemikiran saya.  Saya tidak bermaksud menyudutkan siapapun. Maaf jika ada perkataan saya yang tidak berkenan di hati saudara. Thank you very much :) :)

Jumat, 13 Mei 2016

My Profile



Welcome to my blog  my lovely lovers and haters! Senyum Lebar salam kenal untuk kalian semuaTersenyumTersenyum
nama saya Rita Ariyana N.K., lahir di Jepara 9 April 1993. Waah sudah masuk kepala dua nih,,hahaha..tapi jangan salah, penampilanq masih kelihatan umur 17 san..awet muda kan?? so cute..hihihiSenyum Lebar. Saya nggak tinggi-tinggi banget sih. kalau disandingkan dengan anak SMP saat ini mungkin kalian akan sulit membedakan mana yang anak SMP mana yang saya, haha. So, tebak berapa tinggiku? yup just 150 cm. Dengan berat badan saya yang hanya 46 kg, maybe kalau dihitung berdasarkan Body Mass Index termasuk kategori normal kog Senyum LebarSenyum LebarSenyum Lebar.Saya berkulit sawo matang. Itu normal untuk orang Indonesia, tidak terlalu putih ataupun hitam, heheheSenyum Lebar.  Berbicara mengenai hobbi, saya bingung dan belum jelas apa ya hobbi saya? kalau dulu waktu SD saya ditanya tentang hobbi, jawaban saya adalah membaca. Mungkin sekarang membaca masih menjadi hobbi dan kebiasaan kali ya, termasuk membaca status teman di medsos hahaha Senyum Lebar.  Satu lagi, saya tidak suka dengan kemewahan, saya tidak suka memakai perhiasan yang berlebihan, dan saya suka yang simple2.


Now, I will talk about my education. Saya telah menempuh pendidikan di TK Tarbiyatul Atfal Ngeling (1999) , SD Ngeling 03 (1999-2005), MTs. Matholiul Huda Bugel (2005-2008), SMA Negeri 1 Pecangaan (2008-2011) dan Universitas Negeri Semarang (2011-2015). Saya percaya pada sebuah usaha yang besar, doa dan  sebuah keberuntungan. Saya merasa hidup saya beruntung. Saya punya saudara kembar, namanya Riza Ariyani. Kata orang sih kami berdua mirip dalam segala hal, wajah dan juga otak haha. Kami sekolah di sekolah yang sama. Sejak TK, SD dan MTs, kami satu kelas. Do you know guys...kami percaya akan sebuah keberuntungan, selain usaha, kerja keras dan juga doa orang tua. Sejak duduk di bangku SD, saya bercita-cita menjadi seorang guru. Waktu SMA saya mulai memikirkan, enaknya jadi guru apa ya? Saya berpikir keras karena ini menentukan masa depan saya. Ahaa...saya merasa tertarik dengan mapel Biologi, walaupun sebenarnya saya juga suka dengan Fisika dan Matematika. Saya memilih Biologi karena terinspirasi dari guru biologi saya yang sangat clear dalam menjelaskan materi dan praktik. Saya ingin menjadi seperti beliau. Finally, ketika saya lulus SMA saya memutuskan untuk mengambil program studi pendidikan Biologi di Universitas Negeri Semarang. Kali ini saya tidak akan bercerita mengenai kehidupan kuliah waktu S1 saya yaaa Senyum Lebar, wait in the next story!. Singkatnya, saya lulus ontime (kurang dari 4 tahun) alhamdulillah. Setelah saya lulus, saya memperoleh keberuntungan dan rizki yang kesekian kalinya, Thank's God. Setelah lulus saya mengabdi di salah satu MTs di Jepara, yup jadi guru IPA Biologi. Jadi saya tidak sempat menganggur ya guys...Alhamdulillah saya berhasil mewujudkan salah satu impian saya menjadi guru. Menjadi seorang guru tak semudah yang saya bayangkan sebelumnya. Guru harus berkutat dengan seperangkat tugas administratif yang cukup merepotkan dan sempat bikin saya pusing seperti buat silabus, RPP, lembar penilaian, assessment, media pembelajaran, dll. Selain itu, seorang guru juga harus ekstra sabar menghadapi siswa-siswa terutama siswa MTs yang masih labil dan suka bertingkah mencari perhatian. Saya sempat merasa bingung dan pusing bagaimana menghadapi ini semua. God, help me please!!! *tear..Semakin lama saya terbiasa dengan semua itu. Saya berusaha menjadi seorang teman belajar untuk mereka, sedikit demi sedikit saya berhasil mengambil hati mereka, dan mereka juga mulai 'menyukai'  saya dan enjoy dengan pelajaran saya.

LIFE IS A CHOICE
 
Sayang sekali, saya hanya mengajar disana kurang lebih hanya 8 bulan. Saya berkeinginan melanjutkan study S2, kebetulan ada beasiswa S2 dari LPDP. Saya mencoba mendaftar beasiswa LPDP, dan alhamdulillah, keberuntunganku masih ada, saya lolos. Disini lah saya mengambil keputusan yang besar. Orang tua saya senang karena saya mendapatkan pekerjaan dan menginginkan saya tetap tinggal di rumah dan seperti pada wanita umumnya, yaitu menikah dan berkeluarga. Dalam hati saya, menikah dengan siapa? calon saya gak punya, UPS...hehehehe. Tapi, saya mencoba memberi pengertian pada mereka, bahwa saya ingin meraih kesuksesan di masa depan dan saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan besar ini. Alhamdulillah, orang tua saya mengerti dan sangat mendukung keinginanku. Oke saya berani mengambil keputusan ini, saya akan resign dari sekolah. Awalnya saya takut bagaimana saya mengungkapkan keputusan resign saya ini ke kepala madrasah dan ketua yayasan. I share my dillema to my patner in school. Rekan-rekan guru mendukung keputusanku ini, dan akhirnya saya beranikan untuk menghadap kepmad. Alhamdulillah Kepmad menerima pengunduran diri saya. Saya juga merasa bersalah karena meninggalkan murid2 kelas ix yang mau ujian. I'm so sorry dear...I hope you all will get a success in final exam and you all will pass.
Finally, now saya mengikuti pelatihan bahasa di UNY bersama teman2 awardee LPDP, I feel happy and enjoy about it. That's enough. See you in the next story!! Byee Senyum LebarSenyum LebarSenyum LebarSenyum Lebar