Memang nilai, IPK, skor dan sejenisnya bukanlah
segala-segalanya. Saya pernah membaca statement
seseorang, “nilai itu hanya angka di atas kertas. Besok juga kamu akan lupa setelah
lulus”. Saya sangat setuju, meskipun saya menganggap nilai itu ‘sangat
teramat penting’ untuk mengukur sejauh mana kemampuanku dan seberepa besar
usaha belajarku. Memang benar nilai hanyalah sebuah angka di atas kertas, dan
mungkin beberapa tahun lagi kita akan melupakannya. Tapi tunggu dulu, bukankah kalian selalu
deg-degan saat akan menerima raport atau nilai akhir sekolah? Lulus atau Tidak? Bukankah kalian akan deg-degan sampai-sampai tidak bisa tidur saat kalian akan yudisium? Bukan kah kalian berusaha sekuat
tenaga dan belajar sungguh-sungguh agar bisa mencapai grade toefl di atas 500 atau IELTS di atas 6.5 ? Lalu
seberapa pentingkah nilai buat kalian?. Bagi
mereka yang aktivis, pasti sebagian besar dari mereka berpendapat bahwa nilai
memang tidak begitu penting. Yang penting adalah konstribusi kita untuk
masyarakat. Saya juga sangat setuju sekali karena konstribusilah yang akan
berpengaruh untuk kesejahteraan masyarakat. Namun, sekali lagi jangan memandang
nilai itu hanyalah angka belaka. Saya yakin sebagian besar dosen kita yang a real lecturer/advisor bukan dosen
abal2 yaa memberikan nilai untuk
mahasiswa berdasarkan kemampuannya tidak hanya dari aspek knowledge saja tapi juga dari aspek skill dan sikap mahasiswanya. A
real student yang mendapatkan nilai A pada salah satu makul minatnya
insyaallah bisa berkonstribusi di dalam masyarakat dengan cara mengaplikasikan
ilmunya. Misalnya saja, mahasiswa dari prodi pendidikan. Ia tidak akan disebut
seorang guru yang baik jika belum memiliki 4 kompetensi yaitu pedagogik, profesional,
kepribadian dan sosial. Bagaimana cara ia mendapatkan semua kompetensi itu? Apakah
hanya cukup guru mengajar menggunakan metode yang menarik, based on student center atau kemampuan menggunakan teknologi tanpa
dibekali pengetahuan yang luas? Tidak. Kalau guru tidak berpengetahuan yang
luas justru akan terlihat ‘bodoh’ di depan siswanya. Contoh lain, lulusan fakultas
perternakan bisa berkonstribusi kepada masyarakat dalam acara pelatihan
pembuatan pakan fermentasi yang berkualitas untuk ternak. Apakah dalam pelatihan
ia tidak membutuhkan pengetahuan bagaimana cara membuat pakan tersebut? Lalu,
bagaimana cara ia mendapat ilmu atau pengetahuan yang lebih luas? 'ilmu pengetahuan' adalah kunci utama semua itu. Mereka akan belajar sungguh-sungguh semasa kuliah dan mempunyai target untuk
mendapatkan nilai yang terbaik. Karena belajar tanpa target kita akan
kehilangan separuh semangat kita. Ya,
konsekuensinya mau tidak mau dosen akan memberikan nilai A. Nilai A ini lebih
berbobot dibandingkan nilai A hasil sogokan. Ini lah yang saya maksud ‘nilai
itu sangat teramat penting’.
Jujur, saya merasa agak bingung dan bertanya-tanya dengan
statement yang pernah saya baca ini, “ Demi
Allah, kami memiliki teman2 yang nilainya lebih tinggi dari kami, lebih banyak
hapalannya, tapi setelah wisuda apa yang mereka dapat?hanya menjadi pegawai
biasa. Tak memiliki pengaruh apapun di masyarakat, padahal ilmu mereka melimpah”.
Statement ini seolah-seolah meremehkan mereka yang mendapatkan nilai yang lebih tinggi. Untuk orang yang mengeluarkan statement ini,
apakah kalian sudah memastikan teman kalian
yang nilainya lebih tinggi itu dan ilmu pengetahuan yang melimpah itu setelah wisuda mereka
hanya menjadi pegawai biasa, sehingga kalian membandingkan pekerjaan (rizki)
mereka dengan rezki yang kalian dapat? Atau
Apakah statement itu hanyalah ungkapan belaka untuk menghibur diri kalian yang
memiliki nilai yang rendah? Belum tentu.
Bisa jadi dalam profesinya sebagai pegawai biasa itu mereka sebenarnya telah menerapkan ilmu yang selama ini mereka dapatkan dari kampus. Hal itu
sangat berbeda jikalau kalian memperoleh perkerjaan yang sebenarnya tidak
sesuai dengan jurusan yang kalian ambil saat kuliah dan kalian bisa sukses
dengan pekerjaan itu. Misalnya saja kamu mengambil jurusan biologi atau fisika,
tapi setelah lulus kamu memilih untuk membuka sebuah toko baju, lalu usahamu
itu sangat sukses. Ya, di sini kamu akan bilang nilai itu tidak penting atau
orang yang nilainya lebih tinggi akan percuma, toh nantinya akan menjadi
pegawai biasa. Lebih baik sukses walaupun dengan nilai C. Ingatlah teman-teman, rizki sesorang sudah ada yang mengatur. Syukuri saja nikmat yang
kalian dapatkan. Jangan membanding-membandingkan rizkimu dengan rizki temanmu. Allah sudah mengatur sedemikian rupa agar kamu dapat lebih bersyukur.
Yang terpenting disini adalah lihatlah apa potensi yang ada pada dirimu!. Terkadang sebagian besar orang mengalami kesulitan dalam bersosialisasi dan membangun bisnis, tapi mereka memiliki otak yang cerdas dan pengetahuan yang luas. Mereka bekerja sebagai pegawai biasa atau guru dengan gaji yang kecil tak masalah. Mereka senang melakukan itu. Jika kamu pintar menggeluti dunia bisnis, maka teruskanlah. Tidak ada yang melarang. Jangan saling meremehkan pekerjaan temanmu.
Yang terpenting disini adalah lihatlah apa potensi yang ada pada dirimu!. Terkadang sebagian besar orang mengalami kesulitan dalam bersosialisasi dan membangun bisnis, tapi mereka memiliki otak yang cerdas dan pengetahuan yang luas. Mereka bekerja sebagai pegawai biasa atau guru dengan gaji yang kecil tak masalah. Mereka senang melakukan itu. Jika kamu pintar menggeluti dunia bisnis, maka teruskanlah. Tidak ada yang melarang. Jangan saling meremehkan pekerjaan temanmu.
Sekali lagi nilai yang seperti apa dulu sehingga kita
mengganggap nilai itu bukanlah segala-galanya? Dan jangan lupa untuk berbagi ilmu yang kita dapatkan.
Saya disini bukanlah orang yang selalu mendapatkan nilai yang
tinggi. Saya juga bukanlah seorang aktivis masyarakat. Ini semua hanyalah pemikiran saya. Saya tidak bermaksud menyudutkan siapapun. Maaf
jika ada perkataan saya yang tidak berkenan di hati saudara. Thank you very
much :) :)

